|
Kata Pengantar
Buletin ini adalah bagian kedua dari pembahasan mengenai Doa
8apa Kami. Untuk menjadi jelas bagi kita, ulasan Doa Bapa Kami
ini diambil dari Injil Lukas 11:2-5. Jadi bagian doksologi (karena
Engkaulah yang empunya kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai
selama-lamanya) tidak kami uraikan dalam tulisan mengenai Doa
Bapa Kami yang kami buat kali ini.
Dengan secara sadar tulisan ini tidak mengutip secara mutlak
ungkapan pemikiran James Mulholland, dalam bukunya Praying
Like Jesus, kami menyadari bahwa setiap kali kita mencoba
bersama memahami makna Doa Bapa Kami yang Yesus ajarkan kepada
murid-murid-Nya kita akan makin diteguhkan dan diperlengkapi
untuk memberi makna hidup sesuai dengan kehendak-Nya.
Mari meresapi komitmen dan kedalaman dari isi Doa Bapa Kami
melalui hati dan pikiran yang jernih terhadap apa yang telah
Yesus ajarkan dalam Doa 8apa Kami.
BERIKANLAH KEPADA KAMI MAKANAN YANG SECUKUPNYA
Dalam bukunya, Praying Like Jesus, James Mulholland
menceritakan ketika ia sedang menyaksikan suatu program TV di
mana seorang Sudan-Kristen sedang diwawancarai. Orang itu
bertanya, "Bagaimana saudara-saudari Kristen kita yang kaya di
Amerika dapat mengabaikan fakta bahwa kami di Sudan sedang
mati kelaparan?"
Tiba-tiba pertanyaan ini memberi pelbagai keinginan di hati
James. Pertama-tama ia bersyukur bahwa ia tidak harus menjawab
pertanyaan itu. Tetapi kemudian ia berkata pada dirinya, apa
yang harus aku katakan kepada orang itu? Bukankah selama ini
kita sering meminta kepada Tuhan, "Berilah kepada kami
kemewahan sehari-hari pada hari ini? Dan jarang sekali
memikirkan penderitaan mereka yang berada pada garis kelaparan
yang amat menakutkan? Bukankah bagi orang Sudan itu doa, "Berikanlah
kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya" merupakan doa
yang disampaikan sebagai jerit keputusasaan? Sementara itu
bagi James yang bobotnya sudah kelebihan 20 pon dari yang
seharusnya, bukankah permohonan tersebut merupakan sebuah
tekad untuk melakukan tindakan kemurahan hati untuk tidak
meminta roti bagi diri sendiri melainkan dorongan untuk
memastikan bahwa saudara kita yang di Sudan memiliki makanan
yang cukup?
Ungkapan "Berikanlah kepada kami makanan yang secukupnya"
menuntun kita untuk memahami secara serius apa yang diajarkan
Yesus kepada para murid-Nya. Bahwa mampu makan secukupnya
adalah masalah yang serius dan ini merupakan prioritas yang
penting dalam membangun Kerajaan Allah, yaitu kebutuhan dasar
manusia harus dipenuhi. Dalam Matius 25.31-46 di jelaskan
dengan gamblang mengenai prioritas utama dari membangun
Kerajaan Allah. Sebab ketika aku lapar, kamu memberi aku makan;
ketika aku haus kamu memberi Aku minum....... dst.
Dengan kalimat doa ini, Yesus selain mengajarkan orang untuk
memiliki kecukupan kebutuhan dirinya, Ia menekankan tugas
murid-murid Kristus/Gereja untuk menoleh kepada mereka yang
berkekurangan dan menderita. Yesus menentang ketamakan dan
mengajarkan bagaimana berbagi dan peduli dalam kasih.
Lihatlah bagaimana sesungguhnya sejak dalam masa Perjanjian
Lama umat Allah diingatkan untuk memerangi ketamakan dan
mendapat teguran dari Allah terhadap cara hidup yang penuh
dengan pemuasan diri sendiri (bnd. Yehezkie) 34:3-4, 20-22).
Melalui permohonan: "Berikanlah kepada kami makanan kami yang
secukupnya", mengajarkan bahwa berkat-Nya merupakan sumber
daya kita untuk membangun Kerajaan Allah. Tanggapan terhadap
kemakmuran bukanlah menuruti nafsu dengan sepuas-puasnya atau
mencari lebih banyak berkat bagi kenikmatan diri sendiri. Di
sana Yesus mengajarkan bahwa kemakmuran dan berkat bukanlah
tujuan hidup itu sendiri. Tanggapan yang tepat terhadap
kemakmuran adalah belas kasih. "Berikanlah kepada kami makanan
yang secukupnya", merupakan doa persamaan derajat.
Dalam Kisah Rasul 2:41-47, ketika jemaat mula-mula mengalami
pertumbuhan yang pesat, itu terjadi karena mereka memiliki
karakter yang penuh belas kasih dan kepedulian satu kepada
yang lain. Pesan yang perlu kita ingat adalah "dan selalu ada
dari mereka yang menjual harta miliknya lalu
membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan
masing-masing" (Kis. 2:45).
Doa ini merupakan sebuah pengakuan bahwa Allah memberi
perhatian yang lebih daripada sekedar kebutuhan saya. Allah
peduli pada kebutuhan semua orang. Allah menginginkan agar
semua orang memiliki secukupnya melalui tindakan aktif dan
penuh inisiatif satu kepada yang lain dalam memaknai berkat
Allah dalam hidupnya. Ini bukan berarti bahwa Yesus memihaki
kemalasan dan sikap meminta-minta, tetapi merupakan sebuah
panggilan untuk adanya keseimbangan dalam hidup ini. Sebuah
penyangkalan diri untuk tidak mengklaim berkat sebagai milik
kepunyaan diri melainkan sebuah perlengkapan yang Tuhan beri
agar kita menjalankan keadilan dan kemurahan hati di dalam
hidup terhadap orang lain yang membutuhkannya sehingga
terdapat keseimbangan (bnd. dengan II Korintus 8:13).
AMPUNILAH KAMI SEPERTI KAMI MENGAMPUNI ORAN6 YANG BERSALAH
KEPADA KAMI
Menjelang akhir Perang Saudara di Amerika, banyak orang yang
mendukung dilakukannya hukuman yang cepat dan mengerikan untuk
pihak Selatan kepada Abraham Lincoln. Keinginan untuk
menghancurkan musuh terasa begitu pekat. Tetapi Lincoln
mematahkan kecenderungan dan semangat menghancurkan ini dengan
jawabannya, "Apakah saya tidak menghancurkan musuh saya bila
saya membuat mereka menjadi sahabat saya?" Lincoln meyakini
bahwa Alkitab mengajarkan belas kasih yang memenangkan
penghakiman.
"Ampunilah kesalahan kami seperti kami juga mengampuni orang
yang bersalah kepada kami", adalah ulasan yang sangat indah
yang diajarkan Yesus dalam Doa Bapa Kami. Doa ini mengingatkan
kita pada apa yang Yesus jelaskan dalam perumpamaan mengenai
hamba yang diampuni rajanya karena hutangnya yang amat besar,
sementara ia sendiri tidak mau mengampuni kesalahan temannya
yang relatif kecil sekali bila dibandingkan dengan hutangnya
(Mat. 18:2135)
Pengampunan harus dimulai dengan sebuah permohonan ampun atas
kesalahan kita dan pada saat yang sama sebuah dorongan
kesediaan untuk mengampuni orang lain. Kenapa demikian? Hal
ini karena sebuah pengampunan yang luar biasa cuma bisa kita
terima dengan rendah hati dan ungkapan terimakasih. Sebuah
pengampunan yang mendorong kita melakukan hal yang serupa
terhadap kesalahan orang lain.
Di sini kita juga mendengar apa yang menjadi keinginan Allah
terhadap umat-Nya. Ia tidak menginginkan penghukuman,
penghakiman dan pengutukan, tetapi yang dikehendaki-Nya adalah
pertobatan, pendamaian kembali dan belas kasih. Dalam doa-Nya
ini Yesus menjelaskan betapa rahmat memiliki tujuan ganda.
Rahmat ditujukan untuk mengembalikan kita dalam hubungan yang
sepantasnya dengan Tuhan, tetapi rahmat mengembalikan kita
dalam hubungan yang semestinya dengan sesama.
Kita diberi pengampunan sehingga kita kembali dalam rengkuhan
Tuhan tanpa rasa takut dan perasaan bersalah, dan pada saat
yang sama kita juga belajar mengucapkan syukur atas pemulihan
Allah melalui kesediaan berdamai kembali dengan sesama.
"Ampunilah kami akan kesalahan kami seperti kami mengampuni
orang yang bersalah kepada kami" adalah panggilan untuk
berbelas kasih. Pengampunan bukanlah suatu pilihan.
Pengampunan adalah suatu fondasi di dalam hubungan yang sehat
dengan Allah dan sesama_ Suatu tindakan yang pembelajarannya
berasal dari Allah sendiri dalam Kristus. Sesungguhnya
memiliki hati yang berbelas kasih bukanlah keinginan dasar
dari manusia. Ada banyak kali khayalan balas dendamlah yang
pertama-tama menguasai hati yang terluka, pedih dan marah
terhadap perlakuan orang lain terhadap kita. Kebencian dan
rasa sakit yang menyengat perasaan kita sering membuat kita
tidak bisa tidur dan menginginkan orang yang menyebabkan kita
mengalami semua itu mendapatkan pembalasannya yang setimpal;
kalau bukan kita sendiri yang mengutuki atau merencanakan
pembalasan dendamnya. Walaupun kemudian disadari bahwa balas
dendam tidak menghasilkan solusi apapun. Ada banyak contoh
dari perjalanan balas dendam yang hanya menghancurkan hidup
secara berkesinambungan dan penderitaan. Secara besar-besaran
misalnya bisa kita lihat pada apa yang terjadi di Rwanda,
Irlandia Utara, dan Bosnia. Kematian dan penderitaan dari
generasi ke generasi menjadi saksi atas ketidakberdayaan dari
pembalasan dendam.
Dalam doa; "Ampunilah kami seperti....... ", Yesus mengajarkan
bahwa hanya dalam belas kasih, pengampunan dan pendamaian
kembali di tengah relasi antar manusia di sana terjadi
pemulihan yang diinginkan dalam hidup. Dan itulah kehendak
Allah bagi kehidupan dan pemulihan hidup. Bila dalam interaksi
pribadi dan interaksi yang lebih luas/skala nasional atau
internasional, kita lebih memilih penghakiman dan balas dendam
daripada pendamaian kembali, maka kita menyelewengkan kehendak
Allah dan menghambat pembangunan Kerajaan Allah di muka bumi
ini.
Kemampuan untuk berbelas kasih sangat berkaitan langsung
dengan kesadaran akan belas kasih Allah yang kita alami. Hanya
ketika kita mengakui kebaikan dan rahmat Allah maka kita bisa
mengupayakan pendamaian daripada balas dendam. Sebab tanpa itu
yang sering terjadi adalah kita sering terganggu dan bingung
apabila segala sesuatu terjadi tidak seperti yang kita
harapkan, tidak sesuai dengan aturan dan kehendak yang saya
tetapkan.
"Ampunilah kami....." mengajarkan kepada kita sikap rendah
hati dan jujur. Bahwa saya sama dengan musuh yang terburuk
sekalipun sama-sama membutuhkan pengampunan. Dengan permohanan
ini kita juga disadarkan betapa sikap membenarkan diri adalah
dosa yang amat menggoda, sebab ketika saya menyukai kebaikan
saya maka dosa-dosa orang lain tampak lebih jahat. Ketika saya
melupakan kebutuhan saya untuk diampuni maka dosa orang lain
menjadi lebih sulit untuk diampuni.
Seberapa sukarnya mengampuni? Pengampunan selalu merupakan hal
yang amat sukar dilakukan. Apalagi kalau orang yang kepadanya
kita tawarkan sikap berdamai dan mengampuni secara sukarela
dan mereka membalasnya dengan sikap yang sama sekali di luar
dugaan kita. Bukannya berterimakasih malah mereka memberikan
reaksi yang menyerang atau melecehkan kita. Apakah kalau
begitu pengampunan tidak berlaku bagi orang seperti itu?
"Ampunilah kesalahan kami seperti kami mengampuni orang yang
bersalah kepada kami", adalah kalimat yang penuh dengan
kebijaksanaan. Kita sendiri tidak sempurra karenanya kita
selalu membutuhkan pengampunan dari Tuhan dan sesama. Pada
saat yang sama orang lain pun bersalah kepada kita sehingga
mereka membutuhkan pengampunan dari Tuhan dan kita.
LEPASKANLAH KAMI DARI YANG JAHAT
"Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan tetapi lepaskanlah
kami dari yang jahat", merupakan pengakuan atas kecenderungan
kita untuk masuk ke dalam dosa dengan segala dampak yang ada
padanya. Dengan sangat kuat James M. menekankan bahwa salah
satu bentuk pencobaan yang amat kuat menggoda manusia adalah
uang/kekayaan. Bukan uang/kekayaan itu sendiri yang membawa
manusia ke dalam pencobaan tetapi sikap cinta akan uang yang
membuat kita jatuh dalam pelbagai pencobaan dan menjadi jahat.
Hal yang lain adalah kekuasaan. Haus kekuasaan akan membuat
manusia kehilangan citra manusiawinya terhadap sesamanya dan
terutama Tuhan Penciptanya. Hasrat dan ketergantungan kita
akan uang menjadikan manusia kehilangan nalar manusiawinya.
Penggodaan yang datang dalam kehidupan kita pada dasarnya
adalah sebuah dorongan pemuasan hasrat diri. Apakah itu
kekayaan, kekuasaan, hawa nafsu, keserakahan dan pemuasan diri.
Dalam permohonan ini maka kita diajak untuk perlahan walaupun
menyakitkan kita belajar menyatukan kehendak kita dengan
kehendak Allah dan mengubah kita menjadi makhluk penuh rahmat
sebagaimana yang dikehendaki-Nya.
Dengan mengakui kelemahan dan ketidakberdayaan kita melawan
pencobaan yang datang ke dalam hidup kita, maka di sana kita
memohon agar kita diberi kekuatan untuk memusatkan perhatian
kita pada prioritas-prioritas Allah.
Kisah Pencobaan Yesus di padang gurun merupakan gambaran yang
sangat gamblang mengenai betapa kuatnya dorongan untuk
menyembah kekuasaan dan kekayaan yang disodorkan kepada
manusia. Membuat batu menjadi roti, adalah sebuah godaan yang
memukul telak pada saat orang amat lapar sesudah berpuasa 40
hari 40 malam. Menggunakan kekuasaan, karunia dan segala
kepunyaan untuk tu juan pribadi, merugikan godaan pertama yang
disodorkan kepada Yesus. Lalu Yesus digoda dengan cobaan yang
kedua, yaitu godaan untuk menggunakan kekuasaan, karunia dan
segala kepunyaanNya untuk memajukan diri-Nya sendiri. Yesus
dicobai untuk memanfaatkan hubungan-Nya dengan Allah agar
mendapatkan hak istimewa bagi dirinya sendiri.
Cobaan yang terakhir adalah, sebuah keinginan untuk
menaklukkan kerajaan-kerajaan di dunia dan memilikinya dalam
genggaman sendiri merupakan godaan yang amat berat untuk
dilawan. Ada pemuasan ego dan segala hasrat bertumpuk di sana
dengan cara yang tampaknya mudah yaitu menggadaikan nilai dan
harkat dirinya sebagai makhluk ciptaan kekasih Allah yang
diciptakan untuk berada dalam rencana Allah. "Janganlah
membawa kami ke dalam pencobaan" adalah suatu jeritan untuk
mendapatkan kekuatan untuk melawan godaan-godaan yang membuat
kita menyimpang dari ketaatan kepada rencana Allah dan
menyembah Dia sebagai Tuhan yang kita taati dalam hidup kita.
"Lepaskanlah kami dari yang jahat", merupakan sebuah komitmen
untuk terus berada dalam tuntunan kehendak Allah dan
memenangkan pelbagai godaan yang menyerang hidup kita. Sebuah
permohonan yang keluar dari kerendahan hati yang mengingatkan
kita akan kelemahan kita sendiri dari pelbagai dorongan hawa
nafsu dan angkara murka yang sewaktu-waktu dapat mengalahkan
ketaatan iman kita pada perjalanan mengikuti karya-karya Allah
bagi manusia. Permohonnn ini juga akan membimbing kita kepada
sebuah hubungan yang aktif dengan Kristus yang sanggup
mengalahkan godaan.
Permohonan ini adalah sebuah penyadaran betapa ingatan dan
ketaatan akan kebenaran kehendak Allah sajalah yang akan
membuat kita tetap berada pada jalur hidup yang seharusnya.
Sebab di luar jalur itu kita akan berada dalam belenggu si
jahat. Mamon yang akan membuat kita menukarkan imam dan
kebenaran Allah dengan hawa nafsu dan kebodohan manusiawi kita.
(Nantikan artikel lainnya!)
|