|
Kata Pengantar
Melalui tulisan kali ini kita akan mendalami makna doa Bapa
Kami yang kali ini disajikan melalui penyarian dari ungkapan
James Muholian dalam bukunya yang berjudul Praying Like Jesus,
Dengan pendalaman yang tidak terlepas dari penghayatan pribadi
kita diajak untuk menghayati makna doa Bapa Kami yang
diajarkan Yesus kepada murid-murid-Nya dalam realita hidup
sehari-hari.
Buletin pembinaan seri doa Bapa Kami ini akan dibagi dalam 2
seri. Kali ini kita akan membahas pernyataan yang diungkapkan
dalam doa Bapa Kami yaitu: BAPA KAMI YANG DI SORGA dan
DATANGLAH KERAJAANMU, JADIlLAH KEHENDAKMU DI BUMI SEPERTI DI
DALAM SORGA.
Mari meresapi komitmen dan kedalaman dari isi doa Bapa Kami
melalui hati dan pikiran yang jernih terhadap apa yang telah
Yesus ajarkan dalam doa Bapa Kami.
I. BAPA KAMI YANG DI SURGA
a. ALLAH YANG KEPADA-NYA KITA
BERDOA
Kalau kita berdoa, kepada Tuhan yang manakah kita menyampaikan
permohonan kita?
Di tengah pelbagai sesembahan yang ada di dunia ini, maka satu
pertanyaan teologis adalah : dengan nama apa kita memanggil
Tuhan kita apabila kita datang kepada-Nya?
Dalam Alkitab kita mengenal ada beberapa istilah untuk
menyebut Allah. Elohim adalah istilah yang digunakan untuk
menyebutkan Allah yang disembah oleh Abraham, Ishak dan Yakub.
Dan nama ini kemudian dijelaskan oleh Allah dalam menjawab
pertanyaan Musa tentang nama allah. Di sana Dia menjelaskan
nama-Nya sebagai YHWH, yang oleh orang Yahudi kemudian disebut
sebagai ADONAI yang diterjemahkan sebagai Tuhan. Mereka
meyakini bahwa nama YHWH adalah nama Allah tetapi mereka tidak
mendorong orang untuk menyebutkannya karena dianggap terlalu
suci untuk diucapkan. Allah Israel begitu suci dan kudus,
memandang wajah-Nya sajapun akan berisiko kematian.
Orang-orang yang datang kepada-Nya datang berlutut, mereka
mendahului doa-doa mereka dengan mengakui kekuasaan dan
kemuliaan Allah. Mereka berusaha meredakan kemarahanNya untuk
memperoleh kemurahan hati-Nya.
Di tengah-tengah gambaran mengenai Allah yang sedemikian
menakutkan dan agung itu, Yesus mengajar para murid-Nya untuk
menyapa Allah sebagai seorang Bapa.
b. MAKNA ALLAH SEBAGAI BAPA
Meskipun Perjanjian Lama kadang-kadang menyebut Allah sebagai
seorang Bapa (Mazmur 103:13), Yesus menegaskan bahwa hubungan
akrab tersebut adalah gambaran utama-Nya tentang Allah.
la tidak mengutip istilah Penasihat yang Ajaib, Raja Damai,
Allah yang Perkasa melainkan Yesus memilih istilah Bapa yang
kekal (lihat istilah dalam Yesaya 9:5). Yesus memperkenalkan
dengan jelas bahwa Allah yang oleh banyak orang dipandang dari
kejauhan dengan rasa takut dan gemetar adalah seorang Bapa.
Yesus tidak membuat doa menjadi sesuatu yang rumit dengan
bermacam syarat tambahan dan ritualitas yang penuh dengan
kebingungan dan kepura-puraan. Dia mengajarkan sebuah doa yang
intim dengan sebutan Bapa untuk memanggil Allah.
Para pemimpin agama Yahudi pada zaman Yesus merasa amat
tersinggung ketika Yesus memanggil Allah sebagai Abba/Bapa.
Dalam suatu budaya di mana nama Allah tidak boleh disebutkan
secara langsung, menyebutkan Allah sebagai Abba merupakan
suatu hal yang amat mengagetkan bahkan dianggap sebagai
hujatan.
Apa maksud Yesus menggunakan sebutan Bapa untuk sebuah jalan
masuk kepada hubungan dengan Allah?
Tampaknya Yesus menggunakan gambaran Bapa untuk Allah dalam
rangka mengimbangi gelar-gelar yang membuat Allah jauh dan
tidak bersifat pribadi. Dengan cara ini, Yesus mendefinisikan
hubungan kita dengan Allah secara baru. Allah adalah Tuhan
yang akrab, mencintai dan mempunyai komitmen. Seperti orang
tua yang kita panggil apabila kita terjaga dalam kegelapan,
dalam cekaman mimpi buruk, yang mengeringkan air mata dan
membasuh luka ketika kita terjerat dan terluka.
Allah sebagai Bapa adalah Allah yang penuh perhatian, setia
dan rela berkorban bagi anak-anak-Nya. Di sana ada jaminan
kasih sayang yang tak pernah mengecewakan yang pengenalannya
sempurna atas kebutuhan anak-anak-Nya bahkan sebelum kita
memintanya. Dengan memanggil Allah sebagai Bapa maka di sana
ada jaminan akan cinta Allah yang tak pernah mengecewakan (lihat
Matius 7:9-11). Memanggil Allah dengan sebutan Bapa, kita
bertemu dengan Allah yang akan dengan sabar mendidik kita
apabila kita keliru dengan permohonan kita. Sebab cinta-Nya
menyadarkan bahwa saya mendapatkan apa yang sesungguhnya saya
dambakan dan membuat saya ingin seperti Dia.
c. SEBUAH HUBUNGAN YANG INTIM DAN BERTANGGUNG JAWAB
Melalui sebutan Bapa, Yesus mengajar murid-Nya untuk berdoa
dengan intim dan bertanggung jawab. Bila saya menyatakan bahwa
Allah adalah Bapa saya, maka saya juga menerima tanggung jawab
untuk menjadi seperti Dia.
Bila kita memiliki keberanian untuk berdoa Bapa Kami maka kita
juga harus memiliki keberanian untuk hidup sebagai
anak-anak-Nya. Kita tidak boleh mencemarkan martabat-Nya dan
meniru teladan-Nya dalam hidup kita. Bahwa melalui
pengungkapan diri kita, orang lain melihat betapa baiknya kita
menghadirkan kebenaran dan karakter dari sang Bapa. Dan
kebanggaan ini hanya akan terjadi bila anak-anak Allah
menghargai relasi dengan Bapanya lebih dari pada sekedar
ritual agama.
Kehendak dari Bapa yang dalam keberadaan-Nya yang mulia, telah
menjadikan kita istimewa dalam kasih-Nya dan dengan
menyebutkan Allah sebagai Bapa, di sana muncul sebuah tanggung
jawab untuk menyenangkan hati Allah sebagai Bapa kita. Melalui
kesediaan melaksanakan perintah dan menjalankan kehendakNya.
d. BERADA BERSAMA DALAM KOMUNITAS ORANG PERCAYA
Dengan kata "kami", maka di sana Yesus mengarahkan bahwa
setiap orang percaya yang memanggil Bapa kepada Allah adalah
seorang yang hidup dalam sebuah komunitas.
Di sini kita tidak berdoa hanya untuk kebutuhan sendiri secara
egois, tetapi kebutuhan kami. Dengan cara ini kita bisa
berhenti bertindak seolah-olah cinta Allah kepada orang lain
akan mengurangi cinta-Nya bagi kita. Kita bisa menikmati
hubungan kita dengan Allah tanpa mengabaikan tanggung jawab
kita terhadap saudara-snudara kita yang membutuhkan cinta
kasih yang sama dari Allah.
Berdoa demi kebutuhan-kebutuhan orang lain akan membantu kita
untuk melihat betapa melimpahnya berkat yang kita terima dan
kita menjadi lebih memiliki kepekaan terhadap diri sendiri.
Dengan menyebut Bapa kami dalam doa, kita mengundang Allah
untuk memberi kita cara mencintai satu sama lain dan sekaligus
menyadari akan betapa besarnya berkat Allah yang melimpah
dalam hidup kita.
Melalui sebutan Bapa kami, di sana kita bukan hanya membangun
keintiman dengan Allah namun juga kesadaran untuk bertanggung
jawab sebagai anak Allah untuk hidup sesuai dengan karakter
Bapanya dan komunitas yang di dalamnya ia terpanggil untuk
saling mendukung dalam doanya.
e. SEBUTAN YANG MENDIDIK KITA UNTUK MENYANGKAL DIRI.
Melalui sebutan Bapa Kami di sana kita dididik untuk berani
melakukan penyangkalan diri untuk tidak cemburu pada pemihakan
Allah pada orang lain sebab kita menyadari bahwa Allah
menjadikan kita semua istimewa menurut situasi dan kondisi
yang sedang kita alami. Misalnya: orang miskin memerlukan
makanan, tempat tinggal dll, sedangkan orang kaya membutuhkan
pembebasan diri mereka dari ketergantungan akan harta.
Allah tidak mengistimewakan yang satu dan mengabaikan yang
lain, dengan istilah Bapa kami, di sana ada kesadaran bahwa
Allah menjadikan kita masing-masing istimewa dalam kasih-Nya,
pada saat yang sama kita dididik untuk menyangkal diri dengan
kerelaan hati dalam menikmati berkat yang dialami orang lain.
Kita diajar untuk mempercayai kasih setia Allah yang
menjadikan setiap kita menerima pemeliharaan yang benar di
dalam Bapa kita. Di sana tidak ada anak emas dan anak yang
ditelantarkan. Bukan hanya Allah mengerti akan apa yang
dibutuhkan dan baik bagi anak-anak-Nya dalam kondisi dan
keberadaannya masing-masing, tapi pada saat yang sama kita
diajari kerelaan untuk melihat orang lain dengan cinta dan
pemeliharaan yang sama. Penyangkalan diri di sini menjadi
suatu bagian yang penting di mana kita diajar untuk tidak
secara egois mengklaim berkat Allah hanya untuk diri sendiri.
II. DATANGLAH KERAJAAN-MU
a. JADILAN KEHENDAK-MU DI BUMI SEPERTI DALAM KERAJAAN SURGA
Bagaimana cara memahami kehendak Allah?
Seringkali kita memahami kehendak Allah dengan mernbawa
kecenderungan egoisme kita. Allah ingin saya melakukan apa?
Jalan mana yang paling sempurna yang dipersiapkan-Nya bagi
saya? Bagaimana kita bisa menjamin kebahagiaan dan
keberhasilan kita?
Beberapa orang bahkan mendefinisikannya sebagai anugerah
kesehatan, kekayaan dll untuk memperoleh apa yang
diinginkannya. Sementara itu ada pihak yang lain yang mencari
kehendak Allah dengan rasa takut. Kita beranggapan bahwa
kehendak Allah adalah suatu jalan yang sempit dan tersembunyi
di mana satu saja kesalahan yang kita lakukan kita akan
menerima murka Allah. Yesus mengajar para murid-Nya untuk
mencari kerajaan dan kehendak Allah sebelum mengajukan
tuntutan dan permohonan mereka.
Yesus meminta agar para murid memberi perhatian khusus kepada
kehendak Allah daripada kebutuhan-kebutuhan mereka (bandingkan
Matius 6:33).
Dan memahami Kerajaan Allah merupakan kunci untuk mencari
kehendak-Nya. Sebab mencari kehendak Allah tanpa memahami
Kerajaan-Nya sama dengan memulai perjalanan tanpa peta. Dan
Kerajaan Allah itu ada menunggu diwujudkan di bumi seperti di
dalam surga, melalui kita orang-orang yang percaya kepada-Nya.
Bila kita berdoa datanglah Kerajaan-Mu, maka di sana kita
tidak sedang membuat suatu permohonan melainkan kita
menjanjikan kesediaan kita untuk mengijinkan Kerajaan Allah
dibangun di dalam dan melalui diri kita.
Kerajaan Allah tidak sama dengan kerajaan keagamaan. Pemahamnn
tentang kehendak Yesus tidak boleh menjadi sebuah strategi
untuk memperkaya diri atau menghukum kemiskinan sebagai dosa
dan kekayaan sebagai rahmat.
Kerajaan Allah dibangun lebih berdasarkan rahmat daripada
karya, lebih berdiri di atas cinta kasih ketimbang legalisme,
lebih terbuka kepada semua orang ketimbang hanya kepada
sejumlah kecil orang (Lukas 1:51-53; Lukas 4:18-19)
Dalam perumpamaan tentang talenta dalam Matius 25:14-30, Yesus
menjelaskan betapa Kerajaan Allah meminta seluruh perhatian
dan tekad dari murid-murid-Nya untuk bekerja dan menerjemahkan
kehendak Allah di bumi ini melalui apa yang sudah dikerjakan
dan diajarkan Yesus. Tadi sebuah komitmen para murid untuk
mewujudkan Kerajaan Allah di bumi seperti apa yang telah
diajarkan Yesus kepada mereka. (bandingkan Wahyu 21:3-4).
Dengan permohonan datanglah kerajaan-Nya sesungguhnya sebuah
persiapan dari para murid untuk bekerja dan berkarya di bumi
untuk mewujudkan sebuah kondisi dan situasi seperti yang Allah
kehendaki. Dengan permohanan ini sebuah keyakinan bahwa Allah
sedang berproses di bumi ini menghadirkan terus kerajannNya
melalui setiap orang yang berdoa: datanglah kerajaan-Mu. Sebab
dalam doa tersebut, terjadi penyatuan antara kehendak Allah
dengan kehendak kita. Sebuah keinginan untuk melakukan apa
yang menyenangkan bagi Allah. Melalui permohonan ini Yesus
mengajarkan kepada murid-murid-Nya untuk menerima Kerajaan
Allah dan mengalami pengubahan hidup sesuai dengan yang Allah
kehendaki.
Di sana terdapat sesuatu komitmen total yang di dalamnya
termasuk kesediaan untuk masuk ke dalam penyangkalan diri.
Contoh yang paling sempurna adalah apa yang diperlihatkan
Yesus di Getsemani dalam doa-Nya, Di sana dia bersedia
melakukan penyangkalan diri total yaitu kesediaan-Nya untuk
mati agar Kerajaan Allah hadir di bumi melalui komitmen total-Nya.
Sebuah kesediaan menerima kehendak Allah sebagai suatu yang
lebih utama daripada kehendak kita, meskipun di sana lebih
sering dialami perjuangan daripada kemenangan, penderitaan
daripada kesenangan. Suatu komitmen yang keluar dari keyakinan
bahwa Bapa kita yang di surga dapat dipercaya. Sebuah sikap
aktif untuk mengenal dia secara lebih mendalam dan menjawab
panggilan untuk menjalankan kehendak-Nya di bumi (bandingkan
ungkapan Paulus dalam Filipi 3:10).
Maka permohonan "Datanglah kerajaan-Mu dan jadilah kehendak-Mu
di bumi seperti di dalam surga" yang diajarkan Yesus dalam Doa
Bapa Kami adalah sebuah komitmen total dari orang percaya
untuk mempercayai kehendak Allah dan menjalankannya di bumi di
mana ia hidup dan melalui hidupnya. Kita dipanggil bersama
dalam arak-arakan kemuridan Kristus untuk meyakini sebuah
perubahan dunia menurut apa yang Allah kehendaki melului
kesediaan kita menjalankan rahmat Allah dalam Kristus untuk
memberlakukan kehendak dan karya-Nya di bumi di tempat kita
hidup dan berada.
Penutup
Besar harapan kami bahwa melalui perenungan bersama kembali
akan Doa Bapa Kami ini, kita akan didorong untuk menyadari
hubungan yang intim dan penuh keyakinan kepada Allah yang
adalah Bapa, yang hangat, dapat dipercaya dan mengenal setiap
kita dengan sempurna.
Pada pihak yang lain kita diingatkan untuk menjadi anak yang
bertangung jawab terhadap citra Bapanya melalui apa yang kita
mohonkan dan responi dalam kehidupan kita sebagai anak-anakNya
di bumi ini. Warga Kerajaan Allah yang bersedia memberi
komitmennya baik dalam kesediaan memandang orang lain dan
memperlakukannya dengan benar, maupun komitmen untuk terus
berada dalam kesediaan bersama berada dan menyaksikan hadirnya
Kerajaan Allah di bumi ini melalui sikap dalam kehidupan nyata
kita.
Ada komunitas yang sedang menyejarah bersama, yang melalui
doanya memahami kasih Allah sebagai Bapa yang menginginkan
kita untuk saling mengingat, merelakan dan meninggalkan
egoisme kita dalam hidup di dunia ini. Pusatnya bukan
kebutuhan kita tetapi memahami kasih Sang Bapa dan mempercayai
kebajikan-Nya dalam setiap jawaban yang diberikan kepada
anak-anak-Nya serta menjalankan komitmen kita sebagai orang
percaya yang berada dalam perjalanan sejarah Kerajaan Allah.
Sebuah komitmen dan pengakuan bahwa kehendak-Nya menjadi
pengakuan untuk karya dan karsa bersama di bumi di mana kita
hidup dan ditempatkan bersama orang lain.
(Nantikan artikel lainnya!)
|