Selamat datang di Sahabat Surgawi 
» Media Pelayanan Antar Jemaat, Antar Gereja, Antar Denominasi OnLine
Serba - Serbi Rohani
   
  Fasilitas Pencarian


» Home
» Acara Hari Ini
» Gereja
» Gereja Dunia
» Permohonan Doa
» Form Konsultasi
» Solusi Problema
» Form Kesaksian
» Kumpulan Kesaksian
» Pelangi Jiwa
» Renungan Kecik
» YAMARI
» YASUMA
» PPK Tabitha
» RPUK Muara Kasih
» PA.ASIH LESTARI
» Humor
» Kartu Ucapan
» Peluang Karier
» Donasi














 

 

 

 













 











 
» Fitur Rohani - ALKITAB DAN ILMU PENGETAHUAN

ALKITAB DAN ILMU PENGETAHUAN
 Ir. Stanley I. Sethiadi
 


"Beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan dilaut dan burung-burung diudara dan atas segala binatang yang merayap dibumi".
(Kejadian 1:28b).
 

 FILSUF FEYERABEND DAN TEORI KREASI


      Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi.
(Kejadian 1:1-3).


   "Scientific American" adalah sebuah majalah ilmiah, yang diterbitkan di-Amerika Serikat dan sudah berusia lebih dari satu abad. Majalah ini sangat populer bukan saja di-Amerika, tetapi juga diseluruh dunia. Pada umumnya, majalah itu adalah pendukung teori evolusi. Tetapi dalam penerbitannya bulan Mei 1993 halaman 16-17 diberitakan pendapat seo rang filsuf yang sangat terkenal ialah Dr Paul Karl Feyerabend (1924-1994).

Feyerabend lahir di-Austria pada tahun 1924. Mula-mula ia belajar fisika, kemudian ia lanjutkan dibidang filsafat. Pada tahun 1951 ia mendapat gelar Doctor dalam filsafat. Pada tahun 1975 ia menulis sebuah buku yang berjudul : "Against Method." Buku ini banyak dibaca oleh para ilmuwan sedunia, dan telah diterjemahkan dalam 16 bahasa. Feyerabend juga menulis buku yang berjudul : "Science in a free society" (1978), dan "Farewell to Reason" (1987).

Feyerabend menganjurkan agar kita mempunyai pikiran yang terbuka terhadap metode-metode dan cara hidup baru, biarpun berlainan atau bahkan bertentangan dengan metode-metode dan cara hidup yang telah mapan. Menurut "Scientific American" :

FEYERABEND JUGA MENDUKUNG AGAR TEORI KREASI DIAJARKAN DISEKOLAH-SEKOLAH UMUM, DISAMPING TEORI EVOLUSI.

Teori kreasi dikemukakan para ilmuwan kreasionis sejak tahun 1950 dan lebih tegas lagi sejak 1970. Menurut teori kreasi alam semesta ini terma suk umat manusia diciptakan Pencipta menurut penciptaan khusus, dan bukan berevolusi seperti dikatakan para evolusionis. Mula-mula teori ini diejek oleh para evolusionis sebagai : "Agama yang berselubung ilmiah". Para kreasionis menunjukan bahwa : "Kalau teori evolusi adalah ilmu pengetahuan alam, maka teori kreasi adalah juga ilmu pengetahuan alam. Sebaliknya bila kreasionisme adalah agama, maka evolusionisme adalah juga agama. Keduanya tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, dalam arti kata percobaan-percobaan dan pengamatan-pengamatan yang dapat diulangi dan diselidiki secara seksama. Keduanya hanya berdasarkan spekulasi-spekulasi metafisis dari benda-benda dan hukum alam yang berlaku masakini".

Para kreasionis sedunia berjuang agar teori kreasi diajarkan disekolah- sekolah, disamping teori evolusi. Usaha ini mendapat tentangan keras dari para evolusionis. Banyak evolusionis mempertahankan mati-matian agar evolusionisme tetap menjadi satu-satunya "agama" resmi disekolah- sekolah dari TK sampai Universitas.

Secara umum, lepas dari pro atau kontra teori yang satu atau teori yang lain, patutkah murid-murid disekolah hanya disodorkan satu cara pandang saja, kalau memang ada lebih dari satu cara pandang ? Apalagi diajar seolah-olah cara pandang itu mutlak benar ? Dalam abad ke-20 ini, praktis semua ilmuwan yang berbobot mengerti bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak dalam ilmu pengetahuan alam. Patutkah diadakan pengecualian pada sebuah teori tertentu ? Pada teori evolusi umpamanya.

Dalam dunia ilmu pengetahuan alam, untuk menerangkan sebuah kumpul an gejala-gejala alam memang dapat ada dua atau lebih teori. Umpama mengenai cahaya, ada teori yang mengatakan bahwa cahaya adalah partikel-partikel yang bergerak dengan kecepatan tinggi, dan ada teori lain yang mengatakan bahwa cahaya adalah gelombang-gelombang. Sampai sekarang para ilmuwan masih belum dapat tentukan teori mana yang "lebih benar". Keduanya diajarkan kepada para siswa sekolah menengah dan para mahasiswa IPA.

Mengenai teori asal usul alam semesta, ada tiga buah teori ialah:
1. Teori kreasi, ialah bahwa alam semesta ini diciptakan sang Pencipta.
2. Teori evolusi, ialah bahwa alam semesta ini berevolusi dari zat atau materi dasar.
3. Teori bahwa alam semesta ini selamanya ada. Teori ini kini sudah hampir tidak ada pendukungnya lagi. Tetapi dahulu pernah didukung Aristoteles, Ibn Rushd, dan dalam abad ke-20 oleh Vorontzov Velyaminov dan Fred Hoyle.

Dengan segala kejujuran kejujuran ilmiah (scientific integrity), saya dukung pendapat Feyerabend agar kedua (atau lebih tepat lagi ketiga) teori-teori diatas diajarkan kepada semua murid sekolah dari TK sampai universitas. Setelah diberi kesempatan penerangan yang fair, biarlah sang murid pilih sendiri teori mana yang ia percaya.

Zaman dahulu, lawan para evolusionis adalah para rokhaniwan. Cara-cara dan metode-metode yang dipakai kedua belah pihak berlainan. Di-Amerika Serikat perdebatan sampai berulangkali dibawa kepengadilan negeri, bah kan sampai tingkat Mahkamah Agung. Karena kedua belah pihak tidak dapat kemukakan bukti-bukti ilmiah yang dapat diulangi dan diselidiki dengan seksama, maka kedua belah pihak menggunakan senjata-senjata non-ilmiah seperti kutukan-kutukan, ejekan-ejekan, cemoohan-cemoohan dan penghinaan-penghinaan. Ini jelas bukan cara-cara yang baik untuk mendapat kebenaran.

Dahulu ilmuwan yang tidak setuju dengan teori evolusi pada umumnya hanya protes sekedarnya, a.l. akhli biologi dan geologi yang sangat terkenal Louis Aggasiz (1807-1873). Tetapi sejak 1970 lawan para ilmu wan evolusionis adalah para ilmuwan kreasionis. Kini ilmuwan lawan ilmuwan. Para ilmuwan evolusionis tetap menggunakan senjata ejekan- ejekan. Belajar dari sejarah, para ilmuwan kreasionis berusaha untuk menghindarkan diri terlibat secara emosional, dan berusaha memberi argumen-argumen rasionil tanpa ejekan-ejekan. Contoh yang sangat baik diberikan oleh para ilmuwan di- "Institute for Creation Research" (ICR) di-Amerika Serikat.

Yang jelas ada ialah alam semesta ini. Yang jelas ada ialah batu-batuan, lapisan-lapisan tanah, fosil-fosil, lautan, sungai-sungai, gunung-gunung, planet-planet, bintang-bintang, tumbuh-tumbuhan, binatang-binatang, dan umat manusia termasuk Anda dan saya. Yang jelas ada ialah hukum- hukum fisika, kimia, biologi dan kimia-biologi yang berlaku masakini. Semua ini jelas ada dan tidak dibantah baik oleh kaum kreasionis maupun kaum evolusionis.

Yang dimasalahkan ialah dari mana datangnya semua itu ? Bagaimana kita dapat ada disini ? How do we get here ? Apakah kita ada disini karena diciptakan Allah, atau berevolusi dari zat mati secara kebetulan ? Anda dan saya keturunan Adam dan Hawa historis yang diciptakan Allah menurut peta dan teladanNYA, atau keturunan binatang yang berevolusi secara kebetulan tanpa ada yang recanakan ?

Sesungguhnya, ilmu pengetahuan alam yang murni sebaiknya membatasi diri dengan mempelajari alam semesta masakini. Maximaal masa lalu yang ada saksi-saksi berupa tulisan-tulisan manusia. Dengan ilmu penge tahuan alam murni saya maksudkan ilmu positif, ialah ilmu yang dapat diuji dengan pengamatan-pengamatan dan percobaan-percobaan yang dapat diulangi dan diselidiki dengan seksama.

Menduga-duga masalalu dan masa akan datang alam semesta ini dalam jangka panjang, sesungguhnya sudah keluar dari bidang ilmu pengetahuan alam. Ilmu pengetahuan alam memang dapat ditunggangi oleh filsafat atau agama tertentu sehingga menjadi spekulasi-spekulasi metafisis yang diarahkan agar mendukung filsafat atau agama tertentu itu. Meta berarti setelah. Jadi metafisika berarti setelah fisika. Sesungguhnya spekulasi- spekulasi metafisis sudah keluar dari bidang fisika dan memasuki bidang metafisika, filsafat atau agama. Kita harus belajar membedakan ilmu positif dengan spekulasi-spekulasi metafisis.

Ketika saya bicara dengan beberapa orang Kristen termasuk beberapa pendeta mengenai soal diatas, ada yang jawab dengan ketus : "Itu tidak penting !". Ada yang senyum-senyum secara "simpatik", tetapi tanpa mengambil sikap yang tegas mendukung atau menentang pendapat saya. Kebanyakan lebih suka pilih jalan "aman" dengan berkompromi. Mereka terima suatu theistic evolution yang samar-samar dan/atau disamar- samarkan. Hanya sedikit yang berikan tanggapan positip.

Disadari atau tidak, sesungguhnya hal tersebut diatas sangat penting, sangat fundamentil. Mengapa ? Kalau seseorang merasa dirinya ketu runan binatang, maka iapun tidak akan merasa bersalah kalau ia berlaku dan bertindak sebagai binatang. Beberapa bulan yang lalu saya sempat bicara dengan seorang sarjana teknik dari Jepang. Sebagai sarjana teknik ia memang pandai. Tetapi dari sudut moral dan etika, ia penganut free sex. Setelah saya tanya lebih lanjut ia mengaku tidak percaya pada Allah. Saya tanya kepadanya: "Kalau Anda tidak percaya bahwa Allah itu ada, menurut Anda dari mana asal usul manusia termasuk Anda dan saya ?". Ia jawab sambil tertawa terbahak-bahak : "Maybe from the monkeys". (Mungkin dari monyet-monyet). Karena ia merasa dirinya keturunan monyet ia tidak ada perasaan bersalah kalau ia bersikap dan bertindak seperti monyet.

Sebenarnya menurut para evolusionis manusia dan monyet adalah keturunan primat. Jadi monyet, menurut para evolusionis, adalah "kepo nakan" manusia. Monyetpun ada yang monogami. Tetapi memang ada yang poligami dan "penganut" free sex. Simpanse dianggap para evolu sionis adalah "keponakan" yang paling dekat dengan manusia. Simpanse memang termasuk monyet "penganut" free sex.

Tetapi kalau manusia percaya bahwa ia adalah keturunan Adam dan Hawa historis, yang diciptakan Allah menurut peta dan teladan Allah, maka mudah-mudahan ia akan rindu untuk mendapat kembali peta dan teladan Allah ini yang sempat dirusak oleh dosa. Kepercayaannya ini, tentu ada dampak yang sangat besar akan perilakunya.

Para kreasionis di-Amerika Serikat, Australia, Eropah, Rusia dll sadar benar akan hal tersebut diatas. Mereka sedang memperjuangkan agar teori kreasi diajarkan bersamaan dengan teori evolusi. Bagaimana kalau kita di-Indonesia juga turut memperjuangkannya ?

Pada tahun 1950 ilmuwan kreasionis masih sangat langka. Pada tahun 1970 sudah ada ratusan. Kini 1993, jumlahnya sudah ribuan tersebar diseluruh dunia. Dengan adanya komentar dari seorang filsuf kenamaan seperti Dr Feyerabend diatas, para evolusionis kini sungguh tidak dapat pandang enteng para kreasionis.

Kita tidak dapat merubah dunia dalam waktu sekejap. Tetapi kita selalu dapat sumbangkan iman dan ilmu pengetahuan alam yang benar kepada siapapun yang berhubungan dengan kita. Sedikit-sedikit, lama-lama kan jadi bukit. Himbauan ini saya tujukan kepada semua orang, terutama guru-guru yang beragama Kristen dari denominasi manapun juga, dari TK sampai universitas. Apalagi kepada guru-guru agama disekolah-sekolah Kristen, teristimewa pada guru-guru sekolah Minggu. Lebih teristimewa lagi pada para pendeta dan calon pendeta.

Kini Anda dapat yakin dan percaya dengan teguh bahwa banyak ilmuwan kaliber internasional yang percaya kisah Kejadian 1-11 secara harafiah, a.l. Dr A.E. Wilder Smith dari Swiss, Dr Charles Phallagy dari Australia, Prof Enoch dari India, Dr Henry M. Morris dan anaknya Dr John Morris dari Amerika Serikat, Dr Kouznetsov dari Russia dan ribuan ilmuwan lain. Dimasa yang lalu Kepler dan Newton, bapak-bapak ilmu pengetahuan alam modern, juga percaya Kejadian 1-11 secara harafiah. Filsuf Dr Feye rabend, setelah mempelajari pokok persoalan secara objektip mendukung diajarkannya teori kreasi disekolah-sekolah umum diseluruh dunia.

Sesungguhnya urusan menyelidiki alam semesta masakini, adalah urusan ilmu pengetahuan alam positif, urusan para ilmuwan. Urusan menyelidiki asal mula dan tujuan akhir dari alam semesta ini adalah urusan meta fisika, filsafat atau agama, urusan para rokhaniwan. Tetapi kini memang timbul kekacauan soal ini. Atau mungkin para rokhaniwan memang harus kerjasama dengan para ilmuwan untuk menjernihkan persoalan ini. Mari kita bantu tanamkan iman dan ilmu yang benar dalam setiap kesempatan yang Allah berikan kepada kita. Halleluyah !


                                                
                                                                



Kalau Anda punya pertanyaan atau tanggapan mengenai artikel-artikel diruang "Alkitab dan ilmu pengetahuan" ini atau ada pertanyaan di luar artikel-artikel diruang ini yang ada hubungannya dengan Alkitab dan ilmu pengetahuan, silahkan kirim email ke-saya.
Alamat email saya adalah
sethiadi@cbn.net.id
Saya akan berusaha menjawab sebaik mungkin, bahkan mungkin pertanyaan Anda dapat menjadi bahan untuk artikel berikutnya.
 


Sahabat Surgawi
Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja
antar denominasi OnLine

www.sahabatsurgawi.net
webmaster@sahabatsurgawi.net
Copyright © 2002, Tim Sahabat Surgawi