|
Tak pernah terbayangkan, kalo aku bakal dekat sekali dengan
kematian.
Tgl 20 Juli 2007 seharusnya menjadi hari yang membahagiakan
buat aku dan keluarga, kita semua pergi ke Surabaya untuk
menghadiri pertunangan koko-ku.
Tapi yang terjadi sangatlah mengerikan.
Paginya aku menjalani hari-hari seperti biasa, mengantar
anak sekolah, menjemputnya dan kemudian langsung menuju
airport, tanpa perasaaan sakit sedikitpun. Anak pertamaku
berusia 3 tahun. Memang beberapa minggu terakhir ini, kadang
ada rasa sakit di perutku, terkadang pun kram seperti
kontraksi. Tapi semua sudah tidak mengkhawatirkan, karena
aku sudah mengecheck ke 2 dokter kandungan, dan mengatakan
tidak ada masalah, kemungkinan besar terjadi karena ada
spiral di rahimku. Karenanya sehari sebelum berangkat ke
Surabaya, aku memutuskan untuk mencabut spiralku. Jadilah
aku terbang dengan perasaan lega, karena spiral yang
mengganggu sudah tidak ada lagi di rahimku. Sesampainya di
pesawat, aku berjalan di depan dengan anakku. Waktu itu
anakku agak sedikit ketakutan, karena sudah lama tidak naik
pesawat, dia mogok jalan, sehingga orang dibelakangku tidak
bisa maju. Jadilah kugendong dia sampai menemukan tempat
duduk sesuai dengan nomor. Sampai saat itu masih tidak
terjadi apa-apa, setelah pesawat take off, mulailah perutku
terasa sakit luar biasa, seperti ditekan terus menerus tanpa
henti, badanku mulai lemas menahan sakit, muntah, dan
baju-ku basah penuh dengan muntahan, sementara suamiku sibuk
mencari baju ganti, aku terus semakin kehilangan kesadaran,
semua terasa sangat dingin, dari ujung rambut sampai ujung
kepalaku. Dingin yang aku rasakan membuatku merasa seperti
mau mati. Dengan sisa tenaga terakhir aku sempat berkata
pada adikku yang duduk disebelahku, "Lin, tolong panggil
Kuku Linda (tanteku), cici udah ga tahan lagi, biasanya dia
tahu harus bagaimana kalo ada orang mau pingsan." Setelah
itu rasanya aku tidak dapat merasakan tubuhku, tidak dapat
mendengar orang berbicara, dan dingin luar biasa.......
Kesadaranku kembali pulih ketika Kuku mulai menarik rambutku
sekencang-kencangnya, dan badanku diberi balsam dan
dikerok-kerok sedemikian rupa. Aku benar-benar tidak tahu
apa yang terjadi pada perut dan juga tubuhku.... Aku
berbaring di bangku pesawat sambil menunggu pesawat landing.
Sakit di perutku sudah tidak terlalu terasa, hanya saja
badanku terasa sangat lemas. Ya Tuhan, bisa saja aku tidak
sadar kembali, kalo saja Tuhan tidak ada di sana menolong.
Dingin yang aku rasakan sangat mengerikan, dingin yang
melebihi es dan salju, tak ada lagi kehangatan di tubuhku.
Ketika pesawat landing, aku harus dipapah supaya bisa keluar
dari pesawat, dan kemudian menggunakan kursi roda untuk
keluar dari bandara. Sesampainya di hotel, aku-pun berharap
sakitku akan segera hilang dengan beristirahat, sehingga
sorenya aku masih bisa datang ke acara pertunangan kokoku.
Setelah sampai di ranjangpun, aku masih merasa ada yang
tidak beres di perut, dan badanku terus bertambah lemah,
bernafaspun terasa sakit di tulang-tulang iga. Terus terasa
sakit, sehingga aku memutuskan untuk tidak pergi ke pesta,
jadi tinggal ber-3 saja di hotel, aku, suamiku dan anakku.
Rombongan yang lain sudah pergi diantar ke tempat pesta.
Dalam pikiranku, aku harus makan supaya bisa mempunyai
tenaga, aku coba makan 1-2 sendok nasi. Setelah makan 1-2
suap yang aku rasakan sangatlah sakit, tulang igaku serasa
diremas-remas, sehingga membuat aku sulit bernafas. Aku lalu
berteriak, "ambulance, ambulance", saya sudah tak tahan lagi,
sakit sekali!!!!!!!!!!!! Suamiku mendengar itu, puji Tuhan,
dia tidak langsung panik, dia mencoba tenang, karena dia
harus kuat untuk aku dan anakku, karena tidak ada orang lain
lagi disana, kecuali kami bertiga. Aku mencoba mengatur
nafasku, mencoba menahan sakit yang luar biasa. Suamiku
menelpon resepsionis dan kemudian menyuruhnya membawa kursi
roda ke kamar, dan memesan taksi untuk mengantar kami ke
Rumah Sakit terdekat. Akhirnya sampai juga di Rumah Sakit
Mitra Keluarga, yang saat itu terdekat dari hotel kami di
Somerset Hotel. Aku langsung masuk ke UGD, ditangani oleh
dokter jaga di UGD saat itu. Aku diberi obat anti nyeri
dengan cara disuntik, ternyata tetap tidak berpengaruh,
karena aku masih sakit, sehingga ditambah dosisnya, tetap
masih merasa sakit, kemudian dokter memasukkan obat anti
nyeri melalui anus, dan masih saja merasa sakit luar biasa
di tulang iga, sampai ke tulang di pundak. Dokter kemudian
mengambil air seni saya, dan dibawa ke lab, ternyata
kemungkinan ada infeksi di saluran kemih saya, dan
memungkinkan adanya batu atau kristal sehingga menimbulkan
sakit. Suami saya tidak menginginkan saya dirawat di
Surabaya, karena memikirkan anak saya dan juga saya yang
akan bingung dengan keadaan jika harus dirawat di sana.
Kamipun ngotot untuk keluar malam itu juga. Puji Tuhan Rumah
Sakit mengijinkan kami pulang ke hotel, dengan alasan, besok
harus kembali ke Jakarta. Pulang ke hotel masih merasakan
sakit, hanya masih bisa aku tahan, aku memutuskan untuk
tidak makan karena takut dengan apa yang sebelumnya saya
rasakan. Malam itu juga kamipun terus menelpon Garuda, agar
penerbangan saya yang seharusnya besok sore, dimajukan
menjadi paling pagi. Tuhan pun menjawab doa kami, masih
tersedia 5 kursi untuk penerbangan paling pagi pkl 5 pagi.
Dengan harapan itu pukul setengah 3 pagi, Saya, suami, anak,
cici, dan ipar saya berangkat ke bandara untuk menukarkan
tiket kami. Sampai di bandara pukul setengah 4 pagi. Bandara
masih tutup, belum ada satu loketpun yang buka, jadilah kami
menunggu di bandara, saat itu badan saya tidak terlalu sakit,
tapi masih saya terasa dingin sekali. Jam 4 pun loket Garuda
buka, dan kami orang yang pertama mengantri, dan kami pun
mendapatkan tiket tersebut, dengan membayar sejumlah uang
saja. Puji Tuhan, Dia tidak meninggalkan kami. Dengan rasa
pasrah dan berserah, akhirnya saya bisa naik pesawat untuk
pulang ke Jakarta. Di dalam pesawatpun, terkadang terasa
badan sangat lemas, seperti orang hampir pingsan, saya
menyuruh suami saya untukk menarik-narik rambut saya, supaya
saya tidak jatuh pingsan, karena nafaspun terasa agak sesak.
Perjalanan Surabaya Jakarta yang hanya 1 jam, menjadi sangat
panjang, karena saya sambil menahan rasa sakit saya. Saya
hanya berdoa, jika Tuhan masih mau memakai saya, Ia akan
mengijinkan saya hidup. Dan bisikan yang ada, meminta saya
mengucap syukur, mengucap syukur selalu, dalam keadaan
apapun. Untuk bernyanyi dalam hatipun saya tidak punya
tenaga, hanya pikiran saya yang bernyanyi, dan terus
mengucap syukur padaNya. Suara di pesawat yang menyebutkan
kita akan landing di Jakarta, bagaikan suara kemenangan yang
sangat berarti buat saya. Kami langsung menuju Rumah Sakit
Hermina Daan Mogot, setelah saya menitipkan anak saya di
rumah cici saya. Masuk ke UGD, suami saya meminta untuk saya
diperiksa dengan segala kemungkinan, Puji Tuhan, para dokter
pagi jam 7, mereka sudah ada di Rumah Sakit. Pertama saya
diperiksa oleh dokter UGD, dia masih tidak mengerti apa
penyakit saya, kemudian ada dokter ahli bedah, sehingga
sayapun diperiksa olehnya. Diapun menyatakan tidak ada
masalah berarti, kemudian datang pula dokter internist,
diapun mengatakan hal yang sama. Dia menyarankan untuk
diperiksa oleh dokter kandungan lagi. Puji Tuhan dokter
kandungan yang ada saat itu dr, Adi Sutjahyono. Sebelum dia
periksa, saya menjelaskan apa yang terjadi. Dan sebelumnya
saya sudah ke dokter kandungan 3 kali, karena ada flek
selama 1 minggu lebih sejak tanggal 5 juli. Satu kali di
Hermina dilakukan USG transvaginal, dan kemudian 2 kali lagi
untuk memeriksa spiral dengan USG perut dan kemudian
mencabutnya sehari sebelum keberangkatan saya, mereka
menyatakan tidak ada masalah yang berarti dengan kandungan
saya, mereka hanya memberi saya obat antibiotik, penghilang
nyeri, dan obat hormon. Dokterpun menanyakan kapan haid
terakhir saya, saya jawab 16 Juni. Setelah itu dokterpun
melakukan USG di perut saya, mencari dan mencari apa yang
membuat saya begitu sakit. Tak lama kemudian, dokter
menanyakan. Ibu, ibu jangan kaget, ibu percaya kalau saya
bilang ibu hamil. Saya kaget luar biasa, bagaimana bisa dok,
saya kan menggunakan spiral, dan saya baru mencabutnya 2
hari yang lalu. Kemudian dia menjelaskan ibu hamil, ini ada
detak jantung yang sudah berdenyut, dan itu bukan detak
jantung ibu, melainkan detak jantung dari janin yang ibu
kandung. Dia kemudian terus mencari dimana letak janin
tersebut, sangatlah mengerikan ketika dokter menyatakan saya
hamil di luar kandungan, dan itupula yang menyebabkan sakit
luar biasa, dari gejalanya sudahlah jelas saya hamil ektopik.
Hal tersebut tidak mungkin dipertahankan, karena
membahayakan jiwa saya. Jika terjadi perdarahan hebat karena
janin tersebut pecah, nyawa saya bisa saja melayang. Dokter
memutuskan untuk segera dioperasi untuk diangkat janin yang
ada, diperkirakan kehamilan saya sudah 5 minggu. Suami saya
masih bertanya, apa masih diperbolehkan pulang untuk
kemudian berunding untuk dilakukan operasi dok. Dokter
dengan tegas mengatakan jika bapak bawa istri bapak pulang,
yang ada istri bapak datang dalam keadaan tidak sadar dan
harus masuk ke ICU. Mendengar hal itu, suami saya langsung
menyetujui agar saya secepatnya ditangani dan dioperasi. Di
hati saya benar-benar merasa sangat dilema, anak saya sudah
hidup dan harus diangkat karena dia membahayakan jiwa saya.
Sungguh perasaan serba salah berkecamuk di hati saya. Saya
hanya bisa pasrah, jika ini jalan yang terbaik, akan saya
tempuh, hanya saja saya harus kehilangan anak ini. Saya
percaya anak saya aman di Surga bersama dengan Tuhanku.
Setelah suami saya mengurus semua administrasi, dokter dan
para suster-pun sibuk menyiapkan segala keperluan untuk
operasi. Semua terasa begitu cepat, pengambilan darah untuk
pemeriksaan lab, alat-alat dipasang di tubuh untuk
mengecheck tekanan darah dan denyut nadi, semuanya tidak
membuat saya takut, karena saya percaya Tuhan ada disamping
saya, Dia tidak meninggalkan saya sedetikpun. Hingga tiba
saatnya untuk dioperasi, dokter sempat berpesan kepada suami
saya, Hb saya rendah saat itu hanya 7,7, kemungkinan karena
telah terjadi pendarahan di dalam perut saya (kemungkinan
besar perdarahan terjadi ketika saya dalam pesawat menuju ke
Surabaya). Jika sewaktu dioperasi terjadi sesuatu saya harus
secepatnya menerima transfusi darah, dan suami saya sudah
menandatangani dan menyetujui hal itu. Masuk dalam ruang
operasipun tidak membuat saya takut, hanya bingung karena
semua harus terjadi begitu cepatnya. Dokter mulai membius
saya lewat punggung saya, bius lokal atau spinal. Setelah
separuh badan saya baal, dokter mulai meng-operasi perut
saya, layaknya operasi caesar, ini operasi pertama buat saya,
karena sebelumnya anak saya lahir normal. Saya dapat
merasakan dokter menarik-narik sesuatu dari perut saya,
hanya saja tidak terlalu sakit karena pengaruh bius. Dokter
juga memompa darah keluar dari perut saya, kalau saya tidak
salah dengar, sudah perdarahan kurang lebih 300 cc darah
dalam perut saya. Operasi tak berlangsung lama, dan
dokterpun memutuskan untuk tidak menambah darah, karena saya
masih sadar dan kondisi saya tidak drop saat itu. Setelah
dibersihkan, saya kemudian masuk ke ruang pemulihan. Lega
rasanya keluar dari ruang operasi dan bisa bertemu kembali
dengan suami saya. Tak lama saya beristirahat, saya
merasakan pusing sekali di kepala saya. Dokter pun
memutuskan mengecheck kembali Hb saya, dan ternyata Hb saya
drop hingga 6,6 saat itu. Segera dokter menghubungi PMI
untuk kembali mengirimkan darah yang dipesan sebelumnya.
Saat itu suami dan cici saya bertanya, apakah bisa memakai
darah mereka, suster menjelaskan, prosedurnya akan memakan
waktu lama sekali, karena pengambilan darah hanya bisa
dilakukan di PMI, dan darah tsb harus melalui berbagai macam
test terlebih dahulu, jadi akan lebih cepat memakai darah
yang sudah ada. Suster menyebutkan kurang lebih 1 jam darah
akan sampai di tempat, tunggu punya tunggu hampir 3 jam
hingga darah itu sampai dan kemudian dimasukkan dalam tubuh
saya. Suster juga menjelaskan, kemungkinan besar akan ada
reaksi dari tubuh saya, karena darah yang mengalir bukan
dari tubuh saya, reaksi seperti mual, muntah, gatal-gatal
dsb. Saya hanya bisa pasrah karena saya membutuhkan darah
itu, kira-kira 2 kantong banyaknya harus saya terima.
Tuhan baik pada saya, reaksi yang saya terima hanya mual dan
muntah sekali saja, tidak lama setelah darah baru itu masuk.
Setelah itu tidak terjadi apa-apa pada masa transfusi.
Pusing di kepala saya berangsur-angsur membaik. Sampai
tengah malam, saya menerima transfusi, sehingga saya baru
bisa pindah ke ruang perawatan. Melewati masa-masa kritis
itu, Tuhan mengajarkan saya banyak hal, Dia selalu ada untuk
saya. Dia tidak pernah jauh. Datang padaNya dan Dia akan
bertindak. Kisah ini nyata, dan di tulis oleh saya sendiri
yang mengalaminya. Setelah itu, saya mulai membaca
artikel-artikel mengenai hamil di luar kandungan, jika
terlambat diketahui dan ditolong, dapat menyebabkan kematian
untuk ibunya. Sangat mengerikan membayangkan saya bisa saja
meninggal di atas pesawat. Yang saya percaya, jika Tuhan
masih mau memakai saya, Dia akan mengijinkan saya tetap
hidup. Saya hanya ingin berbagi pada setiap wanita, segera
periksakan diri anda ketika anda merasakan sesuatu tidak
beres dengan perut atau kandungan anda, dan jika anda sudah
terlambat dan mengalami apa yang terjadi pada saya, serahkan
diri anda padaNya, Dia tahu apa yang terbaik untuk saya dan
juga untuk saudara. Terimakasih untuk suamiku yang
mendukung, dan menopang saya melewati semua itu.
Nama saya Janna (yanna), saya bersedia membantu jika anda
membutuhkan informasi mengenai hal yang saya alami. No telp
saya 71000583 atau 08161928494.
|