» Media Pelayanan Antar Jemaat, Antar Gereja, Antar Denominasi OnLine
Serba - Serbi Rohani
   
 
Fasilitas Pencarian


» Home
» Acara Hari Ini
» Gereja
» Gereja Dunia
» Permohonan Doa
» Form Konsultasi
» Solusi Problema
» Form Kesaksian
» Kumpulan Kesaksian
» Pelangi Jiwa
» Renungan Kecik
» YAMARI
» YASUMA
» PPK Tabitha
» RPUK Muara Kasih
» PA.ASIH LESTARI
» Humor
» Kartu Ucapan
» Peluang Karier
» Donasi














 

 

 

 

 

 

 

 














 











 
» Rubrik Kesaksian


MELEWATI MAUT BERSAMA YESUS
Kesaksian : Janna Aman - Jakarta
 


Tak pernah terbayangkan, kalo aku bakal dekat sekali dengan kematian.
Tgl 20 Juli 2007 seharusnya menjadi hari yang membahagiakan buat aku dan keluarga, kita semua pergi ke Surabaya untuk menghadiri pertunangan koko-ku.
Tapi yang terjadi sangatlah mengerikan.
Paginya aku menjalani hari-hari seperti biasa, mengantar anak sekolah, menjemputnya dan kemudian langsung menuju airport, tanpa perasaaan sakit sedikitpun. Anak pertamaku berusia 3 tahun. Memang beberapa minggu terakhir ini, kadang ada rasa sakit di perutku, terkadang pun kram seperti kontraksi. Tapi semua sudah tidak mengkhawatirkan, karena aku sudah mengecheck ke 2 dokter kandungan, dan mengatakan tidak ada masalah, kemungkinan besar terjadi karena ada spiral di rahimku. Karenanya sehari sebelum berangkat ke Surabaya, aku memutuskan untuk mencabut spiralku. Jadilah aku terbang dengan perasaan lega, karena spiral yang mengganggu sudah tidak ada lagi di rahimku. Sesampainya di pesawat, aku berjalan di depan dengan anakku. Waktu itu anakku agak sedikit ketakutan, karena sudah lama tidak naik pesawat, dia mogok jalan, sehingga orang dibelakangku tidak bisa maju. Jadilah kugendong dia sampai menemukan tempat duduk sesuai dengan nomor. Sampai saat itu masih tidak terjadi apa-apa, setelah pesawat take off, mulailah perutku terasa sakit luar biasa, seperti ditekan terus menerus tanpa henti, badanku mulai lemas menahan sakit, muntah, dan baju-ku basah penuh dengan muntahan, sementara suamiku sibuk mencari baju ganti, aku terus semakin kehilangan kesadaran, semua terasa sangat dingin, dari ujung rambut sampai ujung kepalaku. Dingin yang aku rasakan membuatku merasa seperti mau mati. Dengan sisa tenaga terakhir aku sempat berkata pada adikku yang duduk disebelahku, "Lin, tolong panggil Kuku Linda (tanteku), cici udah ga tahan lagi, biasanya dia tahu harus bagaimana kalo ada orang mau pingsan." Setelah itu rasanya aku tidak dapat merasakan tubuhku, tidak dapat mendengar orang berbicara, dan dingin luar biasa....... Kesadaranku kembali pulih ketika Kuku mulai menarik rambutku sekencang-kencangnya, dan badanku diberi balsam dan dikerok-kerok sedemikian rupa. Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi pada perut dan juga tubuhku.... Aku berbaring di bangku pesawat sambil menunggu pesawat landing. Sakit di perutku sudah tidak terlalu terasa, hanya saja badanku terasa sangat lemas. Ya Tuhan, bisa saja aku tidak sadar kembali, kalo saja Tuhan tidak ada di sana menolong. Dingin yang aku rasakan sangat mengerikan, dingin yang melebihi es dan salju, tak ada lagi kehangatan di tubuhku. Ketika pesawat landing, aku harus dipapah supaya bisa keluar dari pesawat, dan kemudian menggunakan kursi roda untuk keluar dari bandara. Sesampainya di hotel, aku-pun berharap sakitku akan segera hilang dengan beristirahat, sehingga sorenya aku masih bisa datang ke acara pertunangan kokoku. Setelah sampai di ranjangpun, aku masih merasa ada yang tidak beres di perut, dan badanku terus bertambah lemah, bernafaspun terasa sakit di tulang-tulang iga. Terus terasa sakit, sehingga aku memutuskan untuk tidak pergi ke pesta, jadi tinggal ber-3 saja di hotel, aku, suamiku dan anakku. Rombongan yang lain sudah pergi diantar ke tempat pesta. Dalam pikiranku, aku harus makan supaya bisa mempunyai tenaga, aku coba makan 1-2 sendok nasi. Setelah makan 1-2 suap yang aku rasakan sangatlah sakit, tulang igaku serasa diremas-remas, sehingga membuat aku sulit bernafas. Aku lalu berteriak, "ambulance, ambulance", saya sudah tak tahan lagi, sakit sekali!!!!!!!!!!!! Suamiku mendengar itu, puji Tuhan, dia tidak langsung panik, dia mencoba tenang, karena dia harus kuat untuk aku dan anakku, karena tidak ada orang lain lagi disana, kecuali kami bertiga. Aku mencoba mengatur nafasku, mencoba menahan sakit yang luar biasa. Suamiku menelpon resepsionis dan kemudian menyuruhnya membawa kursi roda ke kamar, dan memesan taksi untuk mengantar kami ke Rumah Sakit terdekat. Akhirnya sampai juga di Rumah Sakit Mitra Keluarga, yang saat itu terdekat dari hotel kami di Somerset Hotel. Aku langsung masuk ke UGD, ditangani oleh dokter jaga di UGD saat itu. Aku diberi obat anti nyeri dengan cara disuntik, ternyata tetap tidak berpengaruh, karena aku masih sakit, sehingga ditambah dosisnya, tetap masih merasa sakit, kemudian dokter memasukkan obat anti nyeri melalui anus, dan masih saja merasa sakit luar biasa di tulang iga, sampai ke tulang di pundak. Dokter kemudian mengambil air seni saya, dan dibawa ke lab, ternyata kemungkinan ada infeksi di saluran kemih saya, dan memungkinkan adanya batu atau kristal sehingga menimbulkan sakit. Suami saya tidak menginginkan saya dirawat di Surabaya, karena memikirkan anak saya dan juga saya yang akan bingung dengan keadaan jika harus dirawat di sana. Kamipun ngotot untuk keluar malam itu juga. Puji Tuhan Rumah Sakit mengijinkan kami pulang ke hotel, dengan alasan, besok harus kembali ke Jakarta. Pulang ke hotel masih merasakan sakit, hanya masih bisa aku tahan, aku memutuskan untuk tidak makan karena takut dengan apa yang sebelumnya saya rasakan. Malam itu juga kamipun terus menelpon Garuda, agar penerbangan saya yang seharusnya besok sore, dimajukan menjadi paling pagi. Tuhan pun menjawab doa kami, masih tersedia 5 kursi untuk penerbangan paling pagi pkl 5 pagi. Dengan harapan itu pukul setengah 3 pagi, Saya, suami, anak, cici, dan ipar saya berangkat ke bandara untuk menukarkan tiket kami. Sampai di bandara pukul setengah 4 pagi. Bandara masih tutup, belum ada satu loketpun yang buka, jadilah kami menunggu di bandara, saat itu badan saya tidak terlalu sakit, tapi masih saya terasa dingin sekali. Jam 4 pun loket Garuda buka, dan kami orang yang pertama mengantri, dan kami pun mendapatkan tiket tersebut, dengan membayar sejumlah uang saja. Puji Tuhan, Dia tidak meninggalkan kami. Dengan rasa pasrah dan berserah, akhirnya saya bisa naik pesawat untuk pulang ke Jakarta. Di dalam pesawatpun, terkadang terasa badan sangat lemas, seperti orang hampir pingsan, saya menyuruh suami saya untukk menarik-narik rambut saya, supaya saya tidak jatuh pingsan, karena nafaspun terasa agak sesak. Perjalanan Surabaya Jakarta yang hanya 1 jam, menjadi sangat panjang, karena saya sambil menahan rasa sakit saya. Saya hanya  berdoa, jika Tuhan masih mau memakai saya, Ia akan mengijinkan saya hidup. Dan bisikan yang ada, meminta saya mengucap syukur, mengucap syukur selalu, dalam keadaan apapun. Untuk bernyanyi dalam hatipun saya tidak punya tenaga, hanya pikiran saya yang bernyanyi, dan terus mengucap syukur padaNya. Suara di pesawat yang menyebutkan kita akan landing di Jakarta, bagaikan suara kemenangan yang sangat berarti buat saya. Kami langsung menuju Rumah Sakit Hermina Daan Mogot, setelah saya menitipkan anak saya di rumah cici saya. Masuk ke UGD, suami saya meminta untuk saya diperiksa dengan segala kemungkinan, Puji Tuhan, para dokter pagi jam 7, mereka sudah ada di Rumah Sakit. Pertama saya diperiksa oleh dokter UGD, dia masih tidak mengerti apa penyakit saya, kemudian ada dokter ahli bedah, sehingga sayapun diperiksa olehnya. Diapun menyatakan tidak ada masalah berarti, kemudian datang pula dokter internist, diapun mengatakan hal yang sama. Dia menyarankan untuk diperiksa oleh dokter kandungan lagi. Puji Tuhan dokter kandungan yang ada saat itu dr, Adi Sutjahyono. Sebelum dia periksa, saya menjelaskan apa yang terjadi. Dan sebelumnya saya sudah ke dokter kandungan 3 kali, karena ada flek selama 1 minggu lebih sejak tanggal 5 juli.  Satu kali di Hermina dilakukan USG transvaginal, dan kemudian 2 kali lagi untuk memeriksa spiral dengan USG perut dan kemudian mencabutnya sehari sebelum keberangkatan saya, mereka menyatakan tidak ada masalah yang berarti dengan kandungan saya, mereka hanya memberi saya obat antibiotik, penghilang nyeri, dan obat hormon. Dokterpun menanyakan kapan haid terakhir saya, saya jawab 16 Juni. Setelah itu dokterpun melakukan USG di perut saya, mencari dan mencari apa yang membuat saya begitu sakit. Tak lama kemudian, dokter menanyakan. Ibu, ibu jangan kaget, ibu percaya kalau saya bilang ibu hamil. Saya kaget luar biasa, bagaimana bisa dok, saya kan menggunakan spiral, dan saya baru mencabutnya 2 hari yang lalu. Kemudian dia menjelaskan ibu hamil, ini ada detak jantung yang sudah berdenyut, dan itu bukan detak jantung ibu, melainkan detak jantung dari janin yang ibu kandung. Dia kemudian terus mencari dimana letak janin tersebut, sangatlah mengerikan ketika dokter menyatakan saya hamil di luar kandungan, dan itupula yang menyebabkan sakit luar biasa, dari gejalanya sudahlah jelas saya hamil ektopik. Hal tersebut tidak mungkin dipertahankan, karena membahayakan jiwa saya. Jika terjadi perdarahan hebat karena janin tersebut pecah, nyawa saya bisa saja melayang. Dokter memutuskan untuk segera dioperasi untuk diangkat janin yang ada, diperkirakan kehamilan saya sudah 5 minggu. Suami saya masih bertanya, apa masih diperbolehkan pulang untuk kemudian berunding untuk dilakukan operasi dok. Dokter dengan tegas mengatakan jika bapak bawa istri bapak pulang, yang ada istri bapak datang dalam keadaan tidak sadar dan harus masuk ke ICU. Mendengar hal itu, suami saya langsung menyetujui agar saya secepatnya ditangani dan dioperasi. Di hati saya benar-benar merasa sangat dilema, anak saya sudah hidup dan harus diangkat karena dia membahayakan jiwa saya. Sungguh perasaan serba salah berkecamuk di hati saya. Saya hanya bisa pasrah, jika ini jalan yang terbaik, akan saya tempuh, hanya saja saya harus kehilangan anak ini. Saya percaya anak saya aman di Surga bersama dengan Tuhanku. Setelah suami saya mengurus semua administrasi, dokter dan para suster-pun sibuk menyiapkan segala keperluan untuk operasi. Semua terasa begitu cepat, pengambilan darah untuk pemeriksaan lab, alat-alat dipasang di tubuh untuk mengecheck tekanan darah dan denyut nadi, semuanya tidak membuat saya takut, karena saya percaya Tuhan ada disamping saya, Dia tidak meninggalkan saya sedetikpun. Hingga tiba saatnya untuk dioperasi, dokter sempat berpesan kepada suami saya, Hb saya rendah saat itu hanya 7,7, kemungkinan karena telah terjadi pendarahan di dalam perut saya (kemungkinan besar perdarahan terjadi ketika saya dalam pesawat menuju ke Surabaya). Jika sewaktu dioperasi terjadi sesuatu saya harus secepatnya menerima transfusi darah, dan suami saya sudah menandatangani dan menyetujui hal itu. Masuk dalam ruang operasipun tidak membuat saya takut, hanya bingung karena semua harus terjadi begitu cepatnya. Dokter mulai membius saya lewat punggung saya, bius lokal atau spinal. Setelah separuh badan saya baal, dokter mulai meng-operasi perut saya, layaknya operasi caesar, ini operasi pertama buat saya, karena sebelumnya anak saya lahir normal. Saya dapat merasakan dokter menarik-narik sesuatu dari perut saya, hanya saja tidak terlalu sakit karena pengaruh bius. Dokter juga memompa darah keluar dari perut saya, kalau saya tidak salah dengar, sudah perdarahan kurang lebih 300 cc darah dalam perut saya. Operasi tak berlangsung lama, dan dokterpun memutuskan untuk tidak menambah darah, karena saya masih sadar dan kondisi saya tidak drop saat itu. Setelah dibersihkan, saya kemudian masuk ke ruang pemulihan. Lega rasanya keluar dari ruang operasi dan bisa bertemu kembali dengan suami saya. Tak lama saya beristirahat, saya merasakan pusing sekali di kepala saya. Dokter pun memutuskan mengecheck kembali Hb saya, dan ternyata Hb saya drop hingga 6,6 saat itu. Segera dokter menghubungi PMI untuk kembali mengirimkan darah yang dipesan sebelumnya. Saat itu suami dan cici saya bertanya, apakah bisa memakai darah mereka, suster menjelaskan, prosedurnya akan memakan waktu lama sekali, karena pengambilan darah hanya bisa dilakukan di PMI, dan darah tsb harus melalui berbagai macam test terlebih dahulu, jadi akan lebih cepat memakai darah yang sudah ada. Suster menyebutkan kurang lebih 1 jam darah akan sampai di tempat, tunggu punya tunggu hampir 3 jam hingga darah itu sampai dan kemudian dimasukkan dalam tubuh saya. Suster juga menjelaskan, kemungkinan besar akan ada reaksi dari tubuh saya, karena darah yang mengalir bukan dari tubuh saya, reaksi seperti mual, muntah, gatal-gatal dsb. Saya hanya bisa pasrah karena saya membutuhkan darah itu, kira-kira 2 kantong  banyaknya harus saya terima. Tuhan baik pada saya, reaksi yang saya terima hanya mual dan muntah sekali saja, tidak lama setelah darah baru itu masuk. Setelah itu tidak terjadi apa-apa pada masa transfusi. Pusing di kepala saya berangsur-angsur membaik. Sampai tengah malam, saya menerima transfusi, sehingga saya baru bisa pindah ke ruang perawatan. Melewati masa-masa kritis itu, Tuhan mengajarkan saya banyak hal, Dia selalu ada untuk saya. Dia tidak pernah jauh. Datang padaNya dan Dia akan bertindak. Kisah ini nyata, dan di tulis oleh saya sendiri yang mengalaminya. Setelah itu, saya mulai membaca artikel-artikel mengenai hamil di luar kandungan, jika terlambat diketahui dan ditolong, dapat menyebabkan kematian untuk ibunya. Sangat mengerikan membayangkan saya bisa saja meninggal di atas pesawat. Yang saya percaya, jika Tuhan masih mau memakai saya, Dia akan mengijinkan saya tetap hidup. Saya hanya ingin berbagi pada setiap wanita, segera periksakan diri anda ketika anda merasakan sesuatu tidak beres dengan perut atau kandungan anda, dan jika anda sudah terlambat dan mengalami apa yang terjadi pada saya, serahkan diri anda padaNya, Dia tahu apa yang terbaik untuk saya dan juga untuk  saudara. Terimakasih untuk suamiku yang mendukung, dan menopang saya melewati semua itu.
Nama saya Janna (yanna), saya bersedia membantu jika anda membutuhkan informasi mengenai hal yang saya alami. No telp saya 71000583 atau 08161928494.


 

| ARSIP 500 KESAKSIAN | ARSIP KINI |

 

Sahabat Surgawi
Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja
antar denominasi OnLine

www.sahabatsurgawi.net
webmaster@sahabatsurgawi.net
Copyright © 2002, Tim Sahabat Surgawi