 |
 |
|
|
 |
|
|
NATAL, Tuhan berbagi kasih buat manusia
Tjia Sian Wan - Bandung
|
Masih segar ingatan ini, agaknya baru tadi sore saya perbuat, nyatanya itu sudah berlangsung 4 tahun silam. Saat anakku Joan berumur 4 tahun dan bayi kecil Jean masih berumur 1 tahun. Pada malam Natal 2005; ada terbersit dipikiran ini untuk memberi sesuatu pada orang-orang disekitar kita yang kurang mampu, pada fakir miskin, janda-janda, anak-anak jalanan. Memberi suatu yang berguna bagi mereka, dan memberi dengan ikhlas hingga hati ini puas, tidak mengharap imbalan apa-apa, tidak mengharap pujian manusia, pokoknya saya harus menjadi berkat bagi mereka.
Ide di sore hari itu langsung saya laksanakan, saya kumpulkan adik-adik saya untuk membeli makanan-makanan yang nikmat, lalu membungkusnya memakai dus, sehingga menjadi satu paket makanan berisi kue-kue dan 1 gelas plastik air mineral. Jumlahnya ada sekitar 100 dus semuanya. Tidak banyak memang tapi saya bilang pada sang istri bahwa hal ini akan berlangsung dan menjadi satu kebiasaan keluarga saya di malam Natal yang kudus itu.
Menjelang malam bingkisan telah siap sedia, saya keluarkan mobil dan saya ajak istri kedua anak yang masih kecil dan seorang pembantu untuk mengelilingi kota Bandung . Saya temukan banyak sekali anak-anak jalanan, orang-orang yang tidur di emper-emper toko saya bangunkan, tukang-tukang sapu, para pengamen saya bagikan semuanya.Anak saya tertawa senang, dia bisa melihat nanti bahwa yang dilakukan papahnya itu positif, dan saya berharap kelak anak saya akan meneruskan tradisi itu tanpa saya, kemudian diikuti cucu-cucu saya,itulah harapan saya semuanya harus menjadi berkat bagi orang lain disaat Tuhan mengaruniakan berkat bagi kita.
Usai sudah acara itu, waktu berdentang pukul 00.00 , Malam Kudus, malam Natal, terima kasih Tuhan untuk waktu itu.
Malam kudus 2009.....Semuanya berubah total. Saya tidak dapat lagi memberi pada orang-orang yang tidak mampu, bahkan jangankan memberi, untuk pribadi sendiripun sangat kekurangan. Semuanya telah hilang, Materi yang ada semuanya hilang, saya sudah tidak punya apa-apa lagi, mengalami kejatuhan dan usaha bangkrut, hebat penderitaan ini. Tapi saya masih punya keluarga yang sangat mencintai saya.Saya akan berhenti meratap,saya akan berhenti mengasihi diri sendiri. Kiranya Malam Kudus 2009 dimana Terang sudah lahir, kembali menerangi jiwa saya, kehidupan saya, keluarga saya.
Biarlah yang lalu sudah berlalu, saya menatap masa depan, melihat Terang itu. Sungguh suatu perjalanan hidup yang memilukan, Saya hanya berharap, berharap pada Tuhan Yesus untuk memulihkan kehidupan saya.
|
 |
 |
 |
|
|
|
|