|
Saya terlahir di keluarga
Katolik yang taat. Satu
bulan setelah saya lahir,
saya dibabtis Katolik. Orang
tua rajin membawa saya ke
gereja. Karena ketaatan
keluarga saya, kelas empat
SD., saya menerima sakramen
komuni pertama, disusul
sakramen penguatan, tapi itu
tidak membuat saya menjadi
seorang katolik yang taat.
Saya mau mengikuti
pembekalan sakramen
penguatan karena ambisi saya,
saya tidak mau kalah
bersaing, apalagi dengan
adik kandung saya. Sering
saya mengalami permasalahan
dalam hidup dan itu membuat
saya menjauhi Tuhan dan
menghina Tuhan, namun tidak
selamanya saya membenci
Tuhan karena adakalanya
Tuhan baik bagi saya. Saya
sering tidak ke gereja,
tidak berdoa, dan saya
merasa nyaman hidup tanpa
mengenal Tuhan. Kadang Tuhan
menegur kita untuk kembali
pada-Nya melalui musibah,
adakalanya pula Tuhan
menegur kita dengan
kebahagiaan.Hal itu yang
saya alami ketika saya
pacaran dengan seseorang, ia
selalu membimbing saya untuk
dekat dengan Tuhan, bukan
hanya perbuatan di gereja,
tetapi juga perbuatan di
luar, yaitu untuk tidak iri
kepada orang lain. Seiring
berjalannya waktu, hubungan
kami sering terjadi
pertengkaran dan saya merasa
bahwa dia adalah saingan
saya. Apapun yang dia
lakukan saya berusaha
menyainginya, bahkan saya
memanfaatkan dia demi ego
saya. Namun, adakalanya dosa
kita membawa berkah bagi
orang lain, karena merasa
tersaingi dengan pacar saya
yang sudah keliling Jawa,
saya nekad ke Surabaya.
Kebetulan saudara Ibu saya
tinggal di Jawa Timur, orang
tua mendukung, bahkan mau
membiayai perjalanan saya,
maklum sudah 14 tahun saya
tidak bertemu saudara di
Jawa Timur.Awalnya hanya
untuk memenuhi ambisi saya
menikmati kehidupan dunia,
saya mendapat apa yang saya
inginkan, namun Tuhan tidak
hanya memberi apa yang saya
inginkan. Tuhan
mempertemukan saya dengan
saudara-saudara yang sudah
belasan tahun tidak berjumpa.
Mereka senang bertemu saya,
dan saya mendapat hikmah
inilah arti saudara yang
selama ini saya lupakan,
dosa bisa membawa berkah
bagi orang lain.
|