 |
 |
|
|
 |
|
|
DENGAN DONOR DARAH,
HIDUPKU MENJADI BERKAT
Meliana Levina Prasetyo - Surabaya
|
Tanteku adik mama adalah orang yang terkenal pelit dan amat sulit berbagi. Waktu kakekku sakit dan butuh darah tanteku yang darahnya sama (O) tidak mau beri dengan berbagai alasan padahal belum diperiksa oleh PMI, sampai Oomku adik papa bersedia menyumbangkan darah walau akhirnya tidak jadi karena... Baca Selengkapnya golongan darahnya berbeda (A). Akhirnya kakekku terpaksa membeli darah dari PMI. Beberapa tahun kemudian suaminya menderita stroke berat dan serangan jantung sehingga cacat seumur hidup dan sering masuk ICU. Dia membutuhkan darah berkantong-kantong tapi tidak ada keluarga/kerabatnya yang bersedia memberi dengan alasan yang sama seperti tanteku berikan walaupun banyak di antara mereka yang bergolongan darah B, akhirnya terpaksa beli dari PMI. Suami tanteku akhirnya menjadi cacat seumur hidup, jalan tertatih-tatih dan bicara tidak jelas, akhirnya usahanya digantikan oleh tanteku sendiri untuk menghidupi anaknya yang masih sekolah. Beberapa tahun kemudian suami tanteku meninggal dunia, karena anaknya masih sekolah yang butuh kasih seorang papa maka tanteku menikah lagi dengan duda cerai hidup beranak dua. Waktu itu tanteku belum Kristen jadi asal saja memilih, suaminya yang kedua adalah orang yang hidupnya tidak karuan dengan 2 anaknya yang bermoral kurang baik. Lama-lama tanteku tidak tahan dan akhirnya pisah rumah tanpa status cerai sampai suaminya yang kedua akhirnya meninggal juga kena stroke, tapi anaknya telah menikah, mapan meneruskan pekerjaan orang tuanya dan memberinya 2 cucu yang lucu-lucu. Sejak itu tanteku bertobat, dibaptis di gereja dan mulai aktif melayani. Saya tentu tidak meniru sikap seperti tanteku itu, karena saya adalah cucu pendeta yang aktif melayani dan selalu berbuat sosial. Kalau ikut menyumbang pada acara bakti sosial sudah sering kulakukan, hanya baru sekali saya ikut mendonorkan darah 4 November 2009 lalu di gereja Bethany Manyar. Sebelumnya saya belum berani ikut karena orang tua kurang mengijinkan mengingat kedua orang tuaku punya penyakit tertentu sehingga tidak bisa donor darah. Pertama kali saya turuti saya orang tuaku, walaupun adikku sudah mulai ikut donor darah sekali saja. Lama-lama seperti ada yang kurang beres pada diriku, kepala sering tegang, sakit, kaku tapi tiap dicek tidak ada apa2nya dan kehidupanku seperti merasa kurang kasih dan berkat yang sesungguhnya. Sudah tiga kali saya diberi kesempatan untuk ikut donor darah karena kebetulan ada yang memerlukan golongan darah AB karena sakit kanker otak stadium 4, tapi waktu itu saya masih belum berani dengan alasan takut lemas, capai, dsb, sampai pada waktu gereja Bethany Manyar mengadakan acara donor darah saya mencoba ikut tanpa memberitahu orang tua dan teman dekatku. Di situ saya bisa merasakan manfaat yang dipetik setelah selesai donor darah, bahwa hidupku ini milik Tuhan maka saya harus menyerahkannya yang terbaik bagi Tuhan saja yang empunya. Saya belajar untuk menghargai orang lain dan tidak mengasihani diri sendiri, tapi belajar membagikan kelebihan yang ada dari jiwa ragaku, belajar mensyukuri setiap anugerah Tuhan padaku, demikianlah berkat mulai mengalir dalam keluargaku dengan adikku diberi posisi pekerjaan yang lebih bagus dan tentu saya pun juga akan diberikan yang terbaik dari Tuhan. Walaupun setelah donor saya merasa lemas tapi di situlah saya belajar bahwa tubuh ini adalah Bait Allah, saya belajar untuk memelihara sebaik-baiknya bagi Tuhan. Tuhan perlahan-lahan mengubahkan hidupku karena cinta-Nya yang tulus, maka saya pun akan terus memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Ya, semua karena cinta. Setelah ini saya tidak akan takut ikut donor darah lagi menurut kemampuanku.
|
 |
 |
 |
|
|
|
|