|
Segala syukur, hormat, dan
kemuliaan hanya bagi Yesus
Juruselamat yang memberikan
kesempatan bagi saya untuk
dapat memberi kesaksian.
Suatu kisah nyata tentang
kebaikan Tuhan kepada saya,
dan saya tahu kesaksian ini
ditulis oleh karena Roh
Kudus memberanikan dan
membimbing saya.
Saya secara pribadi banyak
melihat anak muda Kristen
yang seringkali jatuh oleh
karena masalah cinta.
Disakiti dan menyakiti dapat
menjadi duri dalam
perkembangan iman, apalagi
sebagian besar anak muda
dengan kondisi emosi yang
masih belum matang
berpeluang besar untuk
terjerumus ke dalam hal-hal
'bodoh', yang tidak jarang
membuat seseorang berpaling
dari jalan-Nya. Kiranya
pengalaman hidup saya dapat
memberi kekuatan dan
inspirasi bagi siapa saja,
terutama bagi anak muda yang
paling sering bergumul dalam
masalah cinta.
Nama saya Stenly dan
sekarang bermukim di Manado.
Saya pernah dibohongi dan
dikhianati oleh seorang
wanita yang sangat saya
cintai, sebut saja namanya
Fanny. Dia seseorang yang
sangat spesial dalam hidupku
pada waktu itu, dan
kebetulan kami kuliah di
fakultas yang sama.
Permulaan perkenalan yaitu
pada masa perkenalan kampus
(maperkam). Kami dikenalkan
oleh kakak tingkat kami yang
juga teman saya. Awal mula
pertemuan saya memang sudah
tertarik, karena
perawakannya yang menarik,
wajahnya yang imut, apalagi
dia mahasiswa yang pintar
dan seiman dengan saya.
Kebetulan salah satu teman
baiknya adalah teman dekatku
juga, melalui dia saya pun
memberanikan diri untuk
meminta nomor telepon Fanny.
Mulai dari telpon-telponan
tiap hari, ketertarikanku
pun bak gayung bersambut.
Kami berdua menjadi sangat
dekat, bukan dekat dalam
arti hubungan persahabatan
tapi dekat sudah seperti
sepasang kekasih. Walaupun
secara status pada waktu itu
kami belum jelas. Tetapi
jalan-jalan bareng, pulang
dan pergi kampus bersama,
makan dan nonton berdua,
sudah menjadi agenda rutin
dalam kebersamaan kami.
Bahkan banyak teman-teman
dan orang-orang sekeliling
kita, yang mengira kita
memang benar-benar sudah
pacaran.
Waktu pun berlalu bersama,
saya pun memberanikan diri
untuk bertanya kejelasan
status kami berdua. Alangkah
terkejutnya saya akan
responnya, dia mengatakan
kalau dia sebenarnya sudah
punya pacar. Katanya memang
sayang sama aku, tapi
hubungan kita tak bisa
lanjut ke tahap selanjutnya
oleh karena statusnya yang
masih pacar orang. Setelah
kejadian itu, kamipun
memutuskan untuk tetap
berteman. Kebersamaan
seperti orang kasmaran yang
selalu kami lakukan dulu,
tak kami lakukan lagi. Dan
tak lama setelah hari itu,
dia pun memutuskan pacarnya
oleh karena alasan yang saya
sendiri kurang tahu. Tetapi
bukan karena laki-laki lain
yang juga sedang pdkt
padanya, dan bukan karena
diriku. Karena walaupun dia
sudah jomblo kami berdua
tetap berteman biasa.
Beberapa waktu kemudian saya
pun tahu alasan kenapa dia
memutuskan pacarnya, kenapa
dia mengkhianati pacarnya,
kenapa dia tak pernah jadian
denganku setelah putus, dan
kenapa dia juga welcome
dengan laki-laki lain yang
pdkt padanya. Oleh karena
dia memang suka 'coba-coba',
merasakan
pengalaman-pengalaman baru
dengan lelaki yang berbeda,
dan secara sadar atau tidak
sadar, dia sudah
mempermainkan perasaan orang
lain. Sungguh sakit hati
yang kurasakan waktu itu,
sungguh menyayangi seseorang,
tapi cinta dan simpati kita
tak dianggap. Fanny lah
wanita pertama yang
benar-benar kusayangi,
seseorang yang selalu
kuinginkan ada di sampingku.
Apalagi sebelum kenal Fanny,
tak ada wanita satupun yang
benar-benar mempunyai
hubungan dekat denganku.
Sehingga bersama dia sungguh
menjadi pengalaman cinta
pertamaku. Harapan-harapan
dan kata-kata sayang yang
dia sering katakan padaku
hanyalah 'angin sorga belaka',
tanpa realisasi yang konkret
dalam hubungan kami
selanjutnya. Aku hanya
dijadikan persinggahan tak
berarti dalam perjalanan
masa mudanya.
Sebenarnya ini juga adalah
kesalahanku, ada teman
bernama Vina yang sudah
mengingatkanku terlebih
dahulu bahwa Fanny memang
wanita yang masih suka
'main-main' dalam cinta. Dia
belum mengerti bagaimana
seharusnya menjalin hubungan
yang dewasa dan tanpa saling
menyakiti. Vina
mengungkapkannya berdasarkan
pengalaman temannya, yang
memang pernah mengalami hal
serupa dengan saya. Tapi
dasar sedang jatuh cinta,
segala sesuatu menjadi tidak
rasional lagi. Seringkali
orang menjadi "buta"
dibuatnya. Biarpun makan
nasi tanpa lauk, tapi kalau
makan dengan sang pujaan
hati, hmm......jadi terasa
lezat bukan?
Orang yang semula malasnya
minta ampun mengikuti kuliah,
menjadi rajin agar mendapat
nilai A untuk membanggakan
kekasihnya. Atau sebaliknya,
orang yang semula rapi,
menjadi awut-awutan setelah
putus dari sang pacar.
Itulah cinta. Cinta pula
yang mewarnai dunia ini.
Tapi ingat! Ada cinta yang
lebih tulus dan indah
daripada kasih sayang
sepasang kekasih (Eros).
Yaitu kasih Allah, kasih
Tuhan Yesus pada kita semua
(Agape). Dengan kematian-Nya
Dia seolah-olah mengatakan
kepada kita: "Lihatlah darah-Ku
yang tertumpah ini" Itulah
bukti cinta yang sebenarnya!
Dia sangat mencintai kita!
Kalau kita terharu dan
tersentuh atas perhatian
kekasih kita saat ia
mengantar, menemani,
menghibur kita, tidakkah
seharusnya kita lebih
tersentuh atas nyawa yang
telah Dia berikan bagi kita?
Yesus yang 100% manusia dan
100% Tuhan menjadi pendamai
dan pembuka jalan bagi kita
untuk datang kepada Bapa.
Yesus rela turun ke dunia
untuk membina hubungan mesra
dengan manusia yang notabene
gemar 'selingkuh'! Selain
itu, manusia pun gemar
melakukan hal-hal yang
menyakiti hati Yesus. Tapi
tidak demikian dengan Yesus,
kasih dan cinta-Nya terlalu
besar. Bahkan ketulusan-Nya
melampaui segala akal.
Sebenarnya tak ada suatu hal
apapun yang terlalu mahal
yang Dia minta dari kita,
jika kita menyadari apa yang
telah Dia lakukan bagi kita.
Oleh karena itu marilah kita
tidak hanya menjadi orang
percaya yang "kering", tapi
menjadi seorang percaya yang
taat dan berbuah. Sebagai
bentuk terima kasih dan
kewajiban atas "RUMAH INDAH
KEKAL" yang telah Dia
sediakan bagi anak-anak-NYA.
Dan itu untuk Saudara dan
Saya!
Pengalaman yang saya bagikan
untuk saudara-saudara
bukanlah suatu kisah luar
biasa, tapi pengalaman yang
sangat mungkin pernah
dialami setiap orang. Pesan
utama dari pengalaman yang
saya bagikan kepada
saudara-saudara sekalian,
yaitu janganlah
sekali-sekali kita membalas
kesalahan orang lain dengan
perbuatan jahat lainnya.
Atau kita memaksakan
kehendak kita di dalam doa.
Atau lebih parahnya lagi,
kekecewaan yang besar
malahan membuat kita menjadi
playboy atau playgirl yang
mempermainkan perasaan orang
lain. Itu bukanlah cerminan
perbuatan anak-anak Tuhan.
Sakit hati karena cinta
mungkin pernah dirasakan
semua orang. Yang terpenting
bagaimana sakit tersebut
tidak terus menjadi duri
yang melukai hati dan jiwa
kita. Dan janganlah itu
merubah identitas kita
sebagai anak-anak
Kristen. Ingat! Tuhan
pasti punya rencana yang
indah bagi kita, selama kita
mau mengampuni dan tetap
setia pada jalan-Nya.
Ingatlah bahwa rancangan-Nya
bukanlah rancangan kita.
Dan, sesungguhnya tangan
Tuhan tidak kurang panjang
untuk menyelamatkan dan
pendengaran-Nya tidak kurang
tajam untuk mendengar (Yesaya
55:1).
Sebagai buah dari peristiwa
tersebut, saya sekarang
mendapatkan seseorang yang
jauh lebih baik dari Fanny.
Dia sangat manis, sabar,
setia, dan yang terpenting
adalah kecantikan hati dan
kedekatannya dengan Tuhan.
Dia juga mencintai dan mau
menerimaku apa adanya.
Pribadi yang dulu hanya
menjadi impian dalan hatiku,
kini menjadi nyata dalam
hidupku.
Bahkan sebenarnya kami
berdua punya pengalaman
pahit yang mirip sebelumnya.
Dua pacarnya yang lama
berselingkuh, bahkan
mengkhianatinya beberapa
kali setelah dia memberi
beberapa kesempatan. Sungguh
ironis bukan? Tapi dia tak
pernah membalas apalagi
menjadi dendam. Keyakinan
yang sama sepertiku, membawa
buah manis baginya di
kemudian hari. Saat ini
kami berdua sudah jalan dua
tahun, dan kami berencana
menikah setelah dia selesai
kuliah. Tapi jangan lupa,
bahwa kita harus tetap
melibatkan Tuhan dalam tiap
rencana kita.
Rancangan indah Tuhan
terbukti dalam hidupku, yang
penting kita tetap setia dan
tidak menyimpang dari
jalan-Nya. Hal-hal yang kita
anggap terbaik pada saat ini,
belum tentu itu yang dari
Tuhan. Kita mungkin tidak
dapat mengerti, tapi bila
saatnya tiba. Semuanya akan
"terbayar" dengan sukacita
yang besar. Amin! ! !
"Sebab Aku ini mengetahui
rancangan-rancangan apa yang
ada pada-Ku mengenai kamu,
demikianlah Firman Tuhan,
yaitu rancangan damai
sejahtera dan bukan
rancangan kecelakaan, untuk
memberikan kepadamu hari
depan yang penuh harapan."
(Yeremia 29:11)
|