Home | Tentang Kami | Kesaksian | Acara rohani | Link
 
Swara Surgawi
Video Streaming
Gratis CD Sabda
Alkitab Elektronik
Hollypower.net
E-mail Gratis
E-card
Kartu Ucapan Kristiani
 
eXTReMe Tracker
  KESAKSIAN
Mama. Praktek Janji Tuhan.
    
Audrey - Jakarta


Mama adalah sumber inspirasi saya untuk menulis buku ini. Menceritakan tentang Mama selalu membuat saya jadi bersemangat. Apalagi tentang keajaiban-keajaiban yang diperlihatkan Tuhan melalui kehidupan Mama. Luar biasa. Saya cuma bisa bilang, luar biasa! Dan lebih dari luar biasa, tak terkatakan. Tak ada kata-kata yang dapat dirangkai seindah apapun untuk melambangkan kasihNya yang begitu besar pada kami sekeluarga. Dan percayalah, kalau hal-hal yang menakjubkan ini bisa terjadi pada kami, maka hal-hal luar biasa akan Dia lakukan juga kepada kehidupan Anda. Asal Anda benar-benar percaya, dan hanya percaya, bahwa Yesus berkuasa.
Di antara begitu banyak mujizat yang telah terjadi dalam kehidupan Mama, ada satu mujizat yang benar-benar saya alami bersamanya. Suatu mujizat yang dapat saya ceritakan dengan jelas, karena saya ada di sana.
Hari itu seharusnya hari yang menyenangkan. Hari itu, 8 Juli 2005, saya berulang tahun ke 22. Untuk merayakannya, kami pergi makan bersama. Tapi hari itu jadi tidak begitu menyenangkan waktu mama mengeluh capek dan tidak enak badan. Saya pikir, Mama tidak menikmati hari itu. Saya sedikit kecewa karena perayaan ulang tahun saya jadi kurang istimewa. Padahal Mama selalu mengistimewakan ulang tahun saya. Tapi ya, saya berhenti berpikir di situ. Saya tidak berpikir yang tidak-tidak. Saya pikir Mama memang sedang tidak enak badan.
Tapi, keadaan Mama tidak membaik. Ditambah, gejala-gejala aneh mulai tampak. Perutnya membesar seperti orang hamil. Kakinya bengkak mulai dari paha hingga telapak kaki. Dan (maaf) kotorannya hitam. Kawatir dengan gejala yang tidak kami kenal ini, kami memutuskan untuk ke dokter, setelah sebelumnya Mama diperiksa darah. Berdua saya dan Mama membawa hasil darahnya ke dokter teman Mama. Terkejut melihat hasil itu, dokter langsung mengumumkan 'sito', yang berarti kondisi mama gawat dan Mama harus segera masuk ke rumah sakit karena kadar Hb-nya tinggal 4 dari nilai normal sekitar 11-12. Tapi Mama tidak mau masuk rumah sakit malam itu juga. Karena sudah terlalu malam menurutnya, jadi lebih baik pagi-pagi keesokan hari. Di tengah kekawatiran, saya menuruti kemauannya, karena saya belum tau pasti apa yang terjadi pada Mama saat itu. Penyakitnya belum jelas, dan kami masih dilanda kebingungan. Jadi kami putuskan pulang ke rumah.
Keesokan harinya, kami berangkat ke rumah sakit. Dan mencari dokter yang tepat. Setelah dokter datang dan memeriksa keadaan Mama. Dokter mulai menjelaskan kepada saya dan kakak-kakak saya tentang apa yang diderita mama. Mama menderita Liver Chirrosis atau dikenal juga dengan Hepatitis C, sementara ada pula orang yang menyebutnya dengan Kanker Hati, sebuah penyakit yang menyerang Liver, yang secara medis tidak dapat disembuhkan. Dokter memvonis Liver Mama tinggal 25%. Waktu itu, kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Karena selama ini, Mama adalah kepala keluarga. Keputusan ada di tangan Mama. Tapi saat itu, kamilah pengambil keputusan. Kamilah yang harus memikirkan apa langkah selanjutnya. Dan kami bingung. Akhirnya kami hanya bisa menuruti nasehat dan tindakan dokter untuk mengembalikan kondisi Mama ke normal. Penyakit itu tidak dapat disembuhkan, tapi bisa diperlambat. Jadi misi dokter saat itu, mengempeskan perut Mama yang kian membesar dikarenakan ada sejumlah besar air di dalam tubuh yang tidak dapat diolah oleh Liver. Sebatas mengembalikan kondisi tubuh dan memberikan vitamin untuk memperkuat Liver, karena penyakit ini tidak dapat diobati. Saya menjaga mama selama 6 hari di rumah sakit. Saya tenggelam dalam kekawatiran dan ketakutan yang mendalam pada saat-saat itu. Begitu pula Mama. Mama takut mati. Saya takut kehilangan.
Sejak meninggalnya Oma, Mama adalah orang yang paling dekat dengan saya. Hanya Mama yang saya punya. Kami jadi semakin dekat karena keadaan. Di samping kenyataan bahwa dia adalah ibu kandung saya, Mama juga telah menjadi sahabat sejati saya. Kakak-kakak saya punya kehidupan sendiri, dan saya tidak dapat berharap pada mereka. Mama adalah satu-satuya harapan saya. Dan saya tidak dapat kehilangan Mama.

Hari-hari berikutnya kami jalani dengan was-was. Kami terus berdoa untuk kesembuhan Mama. Kami percaya pada pertolongan Tuhan, meski di sisi lain kami juga tidak yakin karena apa yang kami lihat tidak tampak baik. Perut Mama masih tetap besar, dan kaki masih sering bengkak. Dan sejak minum obat pemberian dokter, Mama jadi sering (maaf) kencing. Hal itu membuat kami lebih kawatir. Padahal dokter bilang itu pengaruh obat. Puncaknya, pada bulan Februari 2006, saya melihat sendiri, Mama muntah darah banyak sekali. Mama menyangkali bahwa itu darah, dan mengatakan muntahnya berwarna merah karena ia baru saja makan anggur. Tapi baunya yang amis membuat saya yakin kalau itu darah. Mama saya berbohong agar kami tak kawatir. Tapi kami malah semakin kawatir. Malam itu juga, saya menelepon dokter dan memberitahukan kejadian itu. Dokter tidak heran. Menurut dia itu memang sudah biasa. Gejala muntah darah memang pasti akan terjadi karena liver yang pendarahan. Dan pendarahan itu tak dapat dicegah. Yang dilakukannya selama ini hanya memperlambat. Bagi dokter, tidak ada yang dapat dilakukan selain berdoa karena hanya oleh mujizatlah Mama bisa kembali normal.

Segera setelah itu, Mama masuk rumah sakit lagi. Karena pendarahan, maka Mama harus ditransfusi sekitar 4 kantong darah. Mengingat saat-saat itu lagi membuat saya merinding. Tekanannya terlalu besar. Ketakutan meliputi saya. Dan juga Mama. Tapi kami hanya bisa berdoa. Hanya itu yang kami tahu. Hanya itu yang kami bisa. Kami mendoakan kantong darah yang masuk ke dalam tubuh Mama. Kami menganggap itu adalah Darah Yesus yang menyelamatkan, kami mengklaim itu adalah darah Yesus yang menyembuhkan, yang masuk ke dalam tubuh Mama, sehingga Mama pasti sembuh.

Saya tampak kuat di luar, setiap hari saya menjaga Mama di rumah sakit dengan tampang yang tegar. Tapi di dalam hati saya menangis, saya menjerit kepada Tuhan. Saya menjerit, "Bapa, Bapa, tidakkah Engkau melihat tangisan saya, tidakkah Engkau mendengar jeritan saya. Saya tahu, Engkau Allah yang penuh kasih, yang lembut hati. Engkau pasti tak tahan melihat tangisan saya. Engkau pasti tersentuh oleh tangisan saya. Saya percaya, Engkau pasti menyembuhkan Mama. Lihatlah saya Tuhan, Dengarkanlah jeritan saya. Kasihanilah saya Tuhan.Sembuhkanlah Mama saya" Saya terus berdoa, dan menangis pada Tuhan setiap kali saya takut.

6 hari kemudian, Mama keluar dari rumah sakit. Pada bulan Maret 2006, Pendeta Benny Hinn datang ke Indonesia. Dalam kondisi Mama yang mudah lelah dan lemah, saya mengajak Mama ke Jakarta. Saya tidak berharap pada Benny Hinn. Saya berharap, bahwa pada saat kuasa Allah dicurahkan luar biasa di KKR itu, Mama saya akan ikut mengalaminya. Dan menjadi sembuh. Dan sungguh, pada hari KKR itu, Mama merasakan panas di tubuh saat berdoa, dan setelah itu, ia dapat terus berjalan dan tidak menjadi lelah. Padahal biasanya ia mudah lelah. Tapi, kami melewati hari-hari selanjutnya dengan biasa saja. Karena setelah itu Mama tidak langsung memeriksakan diri secara medis. Jadi kami pun tak berpikir apa-apa. Kami cuma tetap berdoa, dan memohon belas kasihan Tuhan. Sampai ketika pada bulan Mei 2006, Mama diperiksa darah lagi, karena jadwalnya memang dua bulan sekali. Pada hari itulah, ketika Mama menghadap dokter, dokter sungguh bersukacita. Ia mengatakan dengan terheran-heran, bahwa ini semata-mata mujizat Tuhan. Ia mengatakan, hasil darah Mama sepenuhnya normal! Dan Mama dinyatakan sembuh. Sungguh luar biasa. Sungguh besar Allah kita! Mama pulang dengan sukacita, dan memberitahu kami semuanya. Saya sangat bersyukur. Kami bersyukur. Bahwa kami beroleh anugerah untuk dapat mengalami mujizat Tuhan.

Sebenarnya saat itu, saya masih sedikit ragu, akan kesembuhan ini. Maklumlah, manusia, diberi kesembuhan malah bingung. Padahal dulunya memohon-mohon. Tapi ketika keesokan pagi, seorang pengusaha dari Jakarta menelepon saya untuk mengajak saya bekerja di perusahaannya, saya tahu, kesembuhan itu memang pasti. Karena saya pernah berkata pada Tuhan, bahwa saya memang punya impian untuk berkarir di Jakarta, tapi sampai Mama sembuh total, saya tidak akan meninggalkan kota kami. Saya tidak dapat meninggalkan Mama, karena saya harus menjaganya. Saya baru bisa ke Jakarta kalau Mama sembuh total. Jadi Tuhan menepati janjinya. Hari sebelumnya, Mama dinyatakan sembuh total, esoknya, hanya selang semalam, saya dipanggil ke Jakarta. Ia membuktikan bahwa Dia mendengar doa-doa kami, tangisan kami, kekawatiran kami, bahkan ketakutan kami. Kasihnya berlimpah. Dan Ia selalu menepati janjiNya. Pasti. Pada hari Mama dinyatakan sembuh, dengan sukacita kami menelepon Pdt.Timotius Arifin, sahabat terdekat dan pemimpin gereja kami. Pada hari itu dia mengatakan bahwa ia melihat Mama hidup terus bahkan sampai masa menimang cucu-cucunya. Dan Tuhan juga menepati janji itu. Karena kini seorang cucu baginya telah lahir dalam keluarga kami. Tapi saya percaya, masih ada cucu-cucu lain yang akan ditimangnya. Lebih banyak lagi anugerah yang akan datang kepada keluarga kami.

Saya telah menulis kesaksian saya dalam bentuk file yang dapat didownload di www.womenofheaven.blogspot.com

Mohon membaca dan mendukung dengan memberikan comment pada blog saya agar kesaksian ini dapat diterbitkan dalam bentuk buku. Semakin banyak comment, semakin memungkinkan untuk buku tersebut diterbitkan...

  Sahabat Surgawi, Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 2002-2007,
Tim Sahabat Surgawi