Ibrani 12:1-3: 1 Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. 2 Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. 3 Ingatlah selalu akan Dia, (arahkan pikiranmu akan Dia) yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.
Beberapa orang percaya ingin menggambarkan kehidupan mereka sebagai kehidupan yang sempurna dan tidak bermasalah. Namun kenyataannya, menjadi orang Kristen tidak selalu mudah. Bahkan, terkadang kita mengalami pencobaan yang menguji iman kita dan kemampuan kita untuk mempercayai Allah.
Penting bagi kita untuk mengingat bahwa Allah memiliki suatu maksud dalam setiap pencobaan yang kita alami dan Ia akan menyertai kita dalam setiap langkah kita. Namun pertanyaannya adalah, apa yang menjadi maksud Allah saat kita menghadapi pencobaan (dijinkan sakit atau mengalami masalah)?
Seperti yang saya alami, sejak bulan maret awal tahun ini, saya dengan istri,kita memutuskan untuk investasi membeli rumah di Indonesia. Dalam pikiran saya sejak hari itu adalah bagaimana saya harus membayar semua keperluan dan pengeluaran hidup kita, hari hari saya mulai diisi dengan kesibukan saya bekerja mencari uang sebanyak mungkin untuk mencukupi semua kebutuhan kami. Dan fokus pikiran dan hidup saya tidak lagi tertuju kepada Yesus. Tapi kepada diri saya sendiri,kepada bagaimana mencukupi kebutuhan hidup saya. Kehidupan rohani saya mulai menjadi kering, waktu pribadi saya / jam-jam doa saya dengan Tuhan juga mulai berkurang. Sekalipun saya masih rajin setiap minggu ke gereja dan melayani,rajin menghadiri doa malam dan kegiatan gerja lainnya. Tapi dalam hati saya merasa jauh dari Tuhan. Karena pikiran dan fokus hidup saya salah. Saya tidak lagi peka dengan hadiratNya dan telinga saya tidak lagi peka mendengar suaraNya. Sampai akhirnya bulan lalu saya dijinkan mengalami sakit. Hampir selama dua minggu saya hanya bisa berbaring di tempat tidur,dan praktis saya tidak bisa bekerja, Dalam keadaan sehat saja, saya cemas bagaimana mencukupi kebutuhan hidup kami apalagi dalam keadaan sakit dan tidak bisa kerja, saat itu jujur saya protes sama Tuhan, saya merasa saya sudah melakukan kewajiban saya sebagai "orang Kristen": saya beribadah bahkan melayani dan saya rutin mengembalikan perpuluhan ke rumah Tuhan.tapi mengapa Tuhan biarkan saya menderita sakit sampai tidak bisa kerja. Dan hari-hari awal saya sakit Tuhan berperkara dalam hidup saya. Disaat saya tak berdaya baru saya disadarkan bahwa yang dikehendaki Tuhan adalah Bapa rindu kita memiliki hubungan erat lagi denganNya lebih dari apapun, lebih dari kesibukan rohani,bahkan pelayanan. Hosea 6:6 Sebab Allah menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran. Dalam keadaan terbaring sakit saya berdoa dan minta ampun akan sikap hati saya yang salah selama ini. Tidak seharusnya saya kuatir akan hidup saya sehingga fokus pikiran saya tidak lagi tertuju kepada Tuhan. Firman Tuhan di Ibrani 13:5 mengingatkan saya: Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." Saya bersyukur sejak saat itu hubungan pribadi saya dengan Tuhan dipulihkan. dan Tuhan membuktikan bahwa Dia Bapa yang memelihara hidup kita sempurna dan Dia Bapa yang bisa kita andalkan.
Saya tidak tahu persis saya sakit apa waktu itu, tapi saya merasa otot di dada saya terasa sakit dan nyeri, setiap kali lengan kanan saya bergerak arah tertentu terasa sakit sekali, dan diikuti badan saya terasa deman setelahnya. Setelah ke dokter, dokter menganjurkan saya minum obat pereda rasa sakit (pain killer). Setiap 6 jam saya harus minum obat itu, kalau tidak minum lagi sakitnya mulai berasa lagi. Waktu itu hari minggu ada perjamuan kudus digereja, saya tahu kondisi saya masih sakit tapi saya tidak mau melewatkannya. Dan oom onky datang menjemput kami pergi ke gereja. Karena kondisi saya lemah saya belum bisa bersepeda ke gereja. Saat perjamuan kudus berlangsung di gereja, saya merasakan hadirat Tuhan kuat sekali menguasai hati saya, dan dalam roh saya mendengar Tuhan berkata: stop minum obat,kamu sudah sembuh. Malam hari sepulang dari gereja badan saya kembali panas dan demam. Istri saya anjurkan supaya saya minum obat. Saya bilang nggak usah, saya bergumul dengan diri saya sendiri. Faktanya saya masih merasakan sakit dan badan saya panas malam itu, tapi pagi itu di gereja, Tuhan bilang saya sudah sembuh dan nggak usah minum obat lagi. Dalam keadaan badan panas saya putuskan mentaati Tuhan dan tidak minum obat dan saya paksakan untuk tidur. Tuhan Yesus ajaib esok paginya saya merasa badan saya pulih, sekalipun kondisi saya masih lemah tapi saya tidak merasakan sakit lagi dan tidak perlu minum obat lagi sejak hari itu. Puji Tuhan!.
Pergumulan terjadi lagi saat saya diperhadapkan dengan masalah keuangan, karena 2 minggu tidak bisa bekerja praktis penghasilan kami berkurang dalam bulan itu. Dan kembali saya mulai cemas karena harus bayar angsuran rumah di indonesia, bayar sewa apartemen disini belum lagi biaya hidup sehari-hari. Jadi secara logika itu tidak cukup buat kami, dan saat itu waktunya kami mengembalikan perpuluhan. Dalam pikiran dan hati saya bergumul: daging saya berkata: Tuhan kan tahu, keuangan kami tidak cukup bulan ini,kalau boleh kami tidak bayar perpuluhan bulan ini, bulan depan saja. Tapi roh saya berkata: Justru dalam keadaan kamu butuh uang, itu waktu yang tepat untuk kamu menabur dan mengembalikan perpuluhan, kamu akan buktikan bahwa Firman Allah itu nyata dan bekerja dalam hidupmu, berhenti fokus dan pikirkan dirimu sendiri dan kebutuhanmu, uangnya tidak cukup,memang benar tidak cukup terus mau diapakan tapi fokus dan arahkan pikiranmu selalu kepada Tuhan, mentaati dan menyenangkan hati Tuhan diatas kebutuhanmu sendiri. Kemudian setelah berbicara dengan istri kami sepakat untuk setia mengembalikan perpulahan kami ke Rumah Tuhan. Ajaib Tuhan setelah itu diluar dugaan saya menerima extra salary dari beberapa bos saya, saya pikir saya kan nggak sedang uang tahun koq dapat bonus, tapi itulah Tuhan, Dia Allah yang mencukupi segala kebutuhan hidup kita. Dan tanggal 28 oktober kemarin kami harus transfer uang untuk membayar angsuran rumah. Jadi hari minggu 26 okt saya transfer uang ke rekening saya di indonesia. Saat itu saya cek kurs turun karena krisis global ekonomi, sekarang 1 euro = 12.459 rupiah kemudian saya tranfer 900 euro untuk bayar angsuran rumah. Sekali lagi Luar Biasa hari selasa pagi saya cek, kiriman sudah masuk di rekening BCA Indonesia dan saya terima lebih banyak dari kurs yang berlaku hari itu, saya terima 1 euro = 14.199 rupiah jadi saya terima extra kurang lebih 2000 rupiah per 1 euro dari Tuhan, Luar biasa. Secara manusia itu mustahil. Tapi bagi Tuhan tiada yang mustahil. Di saat secara logika keuangan kita harusnya minus karena saya 2 minggu tidak kerja tapi justru saat itu keuangan kita lebih dari cukup, bahkan lebih dari pada bulan-bulan normal biasanya.
Tuhan buktikan kalo FirmanNya itu berkuasa, bagi anak-nya yang tulus mentaati dan mengasihiNya. Kita harus mengarahkan pikiran dan hati kita selalu tertuju kepada Tuhan, berkat dan mujizat itu datang dengan sendirinya. Jadikan Dia yang terutama di hidup ini. Jadi setiap perkara yang terjadi dalam hidup kita, Tuhan punya maksud dan rencana;
Pertama, Bapa surgawi terkadang memakai pengalaman pahit untuk membersihkan dan memurnikan hidup anak-anak-Nya. Pencobaan akan membawa kita kepada Tuhan. Kemudian, saat kita berfokus pada-Nya, kita akan mulai melihat segala sesuatu dari sudut pandang-Nya dan seringkali hal itu membuat kita sadar akan dosa kita.
Kedua, terkadang Tuhan memakai kesulitan hidup sebagai cara untuk menguji kita Ia mungkin hendak menguji iman kita, keteguhan dan kesetiaan kita kepada-Nya. Ia memakai pengalaman yang demikian untuk menyatakan sesuatu berkenaan dengan pertumbuhan rohani kita serta untuk menguatkan iman kita.
Ketiga, Allah memakai penderitaan untuk menunjukkan kuasa-Nya dalam menopang kita. Ketika Ia membawa kita melewati masa-masa yang sulit, Ia memuliakan diri-Nya. Hal ini pun akan memberi kekuatan kepada orang lain di saat mereka mengalami pencobaan, sebab mereka telah menyaksikan kuasa Allah yang menopang hidup Anda.
Pada akhirnya, kesukaran akan menguatkan kesaksian kita. Di tengah-tengah kesukaraan, kita mungkin merasa sangat lemah dan putus asa. Namun ketika badai itu berlalu, kita dapat melihat ke belakang dan mengingat pemeliharaan tangan Tuhan yang menyertai kita untuk melewatinya.
in netherlands:
Het doel van moeilijkheden in het leven
Hebr.12:1-3: zegt: Daarom dan, laten ook wij, nu wij zulk een grote wolk van getuigen rondom ons hebben, afleggen alle last en de zonde, die ons zo licht in de weg staat, en met volharding de wedloop lopen, die vóór ons ligt. Laat ons oog daarbij (alleen) gericht zijn op Jezus, de leidsman en voleinder des geloofs, die, om de vreugde, welke vóór Hem lag, het kruis op Zich genomen heeft, de schande niet achtende, en gezeten is ter rechterzijde van de troon Gods. Vestigt uw aandacht dan op Hem, die zulk een tegenspraak van de zondaren tegen Zich heeft verdragen, opdat gij niet door matheid van ziel verslapt.
Sommige christenen geloven dat, wanneer ze een christen zijn geworden, hun levens volmaakt en zonder problemen zouden zijn. Maar om een ware christen te zijn is het in werkelijkheid niet zo makkelijk en soms worden we geconfronteerd met problemen en moeilijkheden met het doel dat ons geloof opgebouwd wordt en het vertrouwen op God wordt versterkt. Belangrijk is te beseffen dat God altijd in elk probleem of moeilijkheid bij ons is. De vraag is: "Wat is Gods bedoeling met onze problemen?
Dit is mijn getuigenis m.b.t. een verkeerde focus: Mijn vrouw en ik hadden een besluit genomen om een huis in Indonesië te kopen en sinds Maart 2008 hebben we een huis gekocht. Het doel hiervan was erin te gaan wonen wanneer we teruggaan naar Indonesië. Sinds de aankoop van dat huis werd ik overladen met de gedachten: "Hoe moet ik elke maand geld opzij zetten om aan de afbetaling van de schulden te voldoen". Dag in dag uit ben ik hiermee bezig met het gevolg dat ik naar meer werk zocht om zoveel mogelijk geld te verdienen. En zo zijn mijn gedachten niet meer gericht op Jezus maar op mijzelf en mijn nood. Mijn geestelijk leven droogde uit. Mijn dagelijkse persoonlijke tijd met de Heer werd minder en minder. Hoewel ik trouw was geweest aan mijn bediening in de gemeente en ik nooit de samenkomsten op zondag had verzuimd, toch ervoer ik diep in mijn hart een geestelijke droogte en ik voelde mij ver van God. Mijn gedachten waren niet meer Godgericht. Ik was niet meer gevoelig voor de aanwezigheid van de Heilige Geest en mijn oren werden doof voor Gods stem.
Totdat ik ziek werd en bijna twee weken niet meer kon werken. Ik werd eerlijk gezegd boos op God en protesteerde tegen Hem. "Ik heb toch mijn plichten als "christen" gedaan. Ik ben toch elke zondag naar de samenkomst geweest en heb mijn bediening vervuld? Ik heb toch elke maand mijn tienden aan U gegeven? Waarom God, hebt U toegelaten dat ik ziek ben geworden?" Juist toen ik ziek was en mij machteloos voelde, kreeg God vat op mijn gedachten en ik kon weer naar Hem luisteren. Juist op het moment dat ik ziek en machteloos was kon God eindelijk mijn aandacht krijgen. Ik besefte op dat moment dat God een soevereine God is Die over mij en mijn leven regeert. Hosea 6:6 schoot mij te binnen: "Want in liefde heb Ik behagen en niet in slachtoffer, in kennis van God en niet in brandoffers." Ik lag op mijn bed en mijn hart werd geopend en ik bad tot de Heer: "Heer, vergeef me voor mijn verkeerde houding. Toen herinnerde de Heilige Geest mij aan Hebr.13:5: "Laat uw wijze van doen onbaatzuchtig zijn, weest tevreden met wat gij hebt. Want Hij heeft gezegd: Ik zal u geenszins begeven, Ik zal u geenszins verlaten." Ik ben zo dankbaar dat mijn relatie met de Heer op dat moment hersteld werd. Ik ervaar weer Zijn aanwezigheid in mijn hart en mijn leven.
Een getuigenis over mijn ziekte: Toen ik ziek was, wist ik niet wat er met mij aan de hand was. Ik had pijn in mijn borst en kon mijn rechterarm niet goed bewegen en kreeg hierdoor koorts. Ik was bij de huisarts geweest die me pijnstillers gaf. Ik moest heel veel pijnstillers innemen, want anders was de pijn niet te dragen. Ik wist dat zondag ook het Heilig Avondmaal werd gevierd en ik wilde dit niet missen. Ik vroeg een broeder om mij en mijn vrouw af te halen, want ik voelde me nog zwak. Tijden de viering van het Avondmaal ervoer ik de aanwezigheid van God in mijn hart en ik hoorde Gods Geest zeggen: "stop met je medicijn, je bent reeds genezen." Die avond na de samenkomst voelde ik me weer zwak en mijn lichaamstemperatuur steeg weer. Mijn vrouw zei dat ik maar een medicijn moest innemen om iets erger te voorkomen. Toen kwam er strijd in mijn gedachten. Want in werkelijkheid voelde ik mij nog ziek, maar God zei dat ik reeds genezen was en dat ik geen medicijn hoefde in te nemen. Op dat moment was ik vastberaden om God te gehoorzamen. Ik nam geen medicijn in en dwong mijn lichaam om te slapen. Onze God is een wonderbare God! De volgende ochtend had ik een lekker gevoel en ik wist zeker dat ik genezing had ontvangen door aan Hem te gehoorzamen. Prijs de Heer!
Een getuigenis over onze financiële problemen: Hebben jullie eens geworsteld met financiële problemen? Wij ook! Hier is wat er met ons gebeurde. Gedurende twee weken kon ik niet werken vanwege mijn ziekte. Dus geen werk, geen inkomen, zo simpel ligt dat nu eenmaal. Ik begon zorgen te maken, want we moesten én maandelijks de hypotheeklasten voor dat huis in Indonesië aflossen én de huur van het appartement waar we wonen betalen én er komt ook nog bij onze dagelijkse uitgaven. En bovendien weten we ook dat we onze tienden aan de Heer (terug) moeten geven. Er kwam weer strijden in mijn gedachten: Mijn vlees zegt: "Geef je tienden deze maand maar niet, want je hebt niet genoeg." (Het was inderdaad niet genoeg....zelfs wanneer we onze tienden gaven). Maar mijn geest zegt: "Lukas, juist op het moment dat je geld hard nodig hebt is het een goed moment om je tienden aan de Heer (terug) te geven en ook een goed moment om te zaaien zodat je zelf kunt zien hoe God in je leven werkt. En stop met jezelf te richten op wat je nodig hebt, en vestigt je aandacht altijd op God, om Hem blij te maken en om Hem te gehoorzamen boven alles."
Ik sprak met mijn vrouw en we hadden samen besloten om onze tienden aan de Heer te blijven geven zelfs wanneer wij weten dat er niet genoeg voor ons zou overblijven. Alweer toonde God hierin een betrouwbare God te zijn. Op het werk kreeg ik een bonus van mijn baas. Ik dacht bij mijzelf, "ik ben toch niet jarig". In die maand toen ik ziek was, kwamen we hierdoor niets tekort. God is wonderbare God . Mijn getuigenis gaat verder: Op de 28ste van elke maand moeten wij 900,- Euro's overmaken om onze hypotheek in Indonesië af te lossen. Maar door de financiële crisis is de koers van de Euro lager geworden met als gevolg dat we meer dan 1000,- Euro's moesten overmaken. We baden tot de Heer voor een oplossing en we hielden aan het bedrag van 900,- Euro's om dit naar Indonesië over te maken. Het was op een zondag dat ik op Internet las dat de koers op die dag 1 euro=12.490 rupiahs was. Menselijkerwijze kwamen we natuurlijk rupiahs tekort. En alweer verbaasde God ons. Dinsdag ochtend was het geld op onze bank in Indonesië binnen gekomen, en zag tot mijn verbazing dat ik 2000 rupiahs voor iedere euro meer kreeg dan de koers die op die dag geldig was. Mijn vrouw zei: "Ik snap het niet, het is onmogelijk". "Ik ook niet", zei ik. Maar wat voor ons onmogelijk is, is voor God mogelijk. Het was werkelijk wonderbaarlijk. Door God te gehoorzamen en op Hem blijven vertrouwen werd onze financiële tekort en problemen veranderd in financiële overvloed. God is heel goed.
God heeft keer op keer aan mij en mijn vrouw bewezen dat er kracht is in Zijn woord. Wat wij moeten doen is slechts onze gedachten op Hem richten en van Hem boven alles in je leven jouw eerste prioriteit te maken. God heeft altijd een bedoeling en plan met elke situatie die wij hebben of ervaren in ons leven:
Ten 1ste: Onze hemelse Vader gebruik onze bittere ervaringen en problemen om ons te reinigen en om ons dichter bij Hem te brengen. We leren om onze aandacht op Hem te vestigen en om te leren om alle dingen vanuit Zijn perspectief te zien. Dit brengt ons vaak tot het besef dat wij gezondigd hebben.
Ten 2de: Soms gebruikt God onze moeilijkheden als een middel om ons geloof in Hem, trouw aan Hem en onze relatie met Hem te testen. Want voor God is geestelijke groei naar volwassenheid heel belangrijk.
Ten 3de: God gebruikt onze pijn om Zijn macht aan ons te tonen en te bewijzen dat Hij echt en een levende God is. Op het moment dat Hij problemen en moeilijkheden in ons leven toelaat, wilt God ons allen leren om op Hem zonder twijfel te vertrouwen.
Tenslotte: Moeilijkheden zou ons tot een sterker geloof brengen. Mits wij op Hem alleen vertouwen. Te midden van onze moeilijkheden en op het moment dat wij met volle overgave in Hem ons vertrouwen leggen, zal Zijn kracht geopenbaard worden. En op het moment dat de stormen in ons leven voorbij zijn, kunnen we slechts terug kijken en zeggen: "God, U bent altijd met ons en uw handen zijn in elk van onze omstandigheden aanwezig."
God zegen,
Lukas en Desti Hermawan
2 Korintiërs 12:9 "En Hij heeft tot mij gezegd: Mijn genade is u genoeg, want de kracht openbaart zich eerst ten volle in zwakheid. Zeer gaarne zal ik dus in zwakheden nog meer roemen, opdat de kracht van Christus over mij kome."
|