Nama saya Agathe Nathalie. Dulu, apabila saya melihat atau mendengar orang berkata bahwa Yesus itu Dahsyat, Yesus mampu menolong, saya sulit mempercayainya. Masak sih? Apa betul? Bagaimana mungkin ada orang yang sedemikian pasrahnya pada Tuhan? Saya sulit percaya, walaupun saya sejak lahir sudah beragama Kristen. Pada kesempatan ini saya ingin bersaksi tentang bagaimana Tuhan sangat berkemurahan melepaskan saya dari ikatan-ikatan yang membelenggu kehidupan saya. Betapa Tuhan Yesus amat sangat mengasihi dan mau menyelamatkan saya. Dan betapa Yesus telah merubahkan kehidupan saya.
Awal February 2006, saya sempat bertanya kepada Ibu rohani saya, apakah saya sanggup menjalani kehidupan saya sampai akhir February saja? Ibu rohani saya tersenyum dan mengangukkan kepala sambil berkata, "Kamu mampu!". Saya tahu doa yang beliau panjatkan buat saya tidak pernah putus-putusnya. Beliau sangat tahu pergumulan demi pergumulan yang saya hadapi. Saya tahu, bukan secara kebetulan saya bertemu dengan beliau. Tapi pertemuan ini memang sudah diatur oleh Tuhan. Karena Tuhan sangat mengasihi saya dan ingin menyelamatkan saya.
Bulan-bulan itu adalah hari-hari yang teramat berat dalam kehidupan saya. Rasanya saya ingin menyerah! Saya ga sanggup menjalani hidup ini. Diambang batas keputus-asaan saya, keinginan bunuh diri itu sempat terlintas di pikiran saya. Biar ga keliatan bunuh diri beneran yang pakai tali digantung, saya sempet berniat nabrakkin mobil saya. Jadi kelihatan kaya kecelakaan. Malu juga sih kalo gantung diri, kelihatannya konyol. Kalau kecelakaan kan yang tau niat bunuh diri cuma saya, orang lain ga tahu. Tapi mau menabrakkan mobil, saya juga berpikir itu mobil kantor. Kalo dipikir lucu juga, punya niat bunuh diri kok masih sempat mikir-mikir.
Tuhan mengetuk pintu hati saya pada saat saya mulai belajar mengenalNya. Seminggu sekali saya ikut dalam Mezbah Keluarga Ayah dan Ibu Rohani saya. Mulanya hanya untuk mengisi waktu. Tapi memang Firman Tuhan tidak pernah keluar dengan sia-sia. Firman Tuhan mampu mengubahkan hidup seseorang. Suatu ketika, setelah Ibu rohani saya berdoa dan menumpangkan tangannya, beliau berkata bahwa suatu saat Tuhan akan memakai saya sebagai alatNya. Dan pada saat ini, Tuhan sedang mempersiapkan dan membentuk saya. Waktu itu saya tidak percaya. Yang benar saja? Bagaimana mungkin seorang seperti saya bisa jadi alatNya Tuhan?
Kehidupan Rohani saya boleh dikatakan suam-suam kuku. Saya hanya percaya bahwa Tuhan itu ada tetapi saya tidak dekat dengan Tuhan. Berdoa saja jarang apalagi untuk membaca Alkitab dan pergi ke Gereja.
Tapi sekali lagi saya katakan disini, Firman Tuhan tidak pernah keluar dengan sia-sia. Pada saat Mezbah keluarga, saya lupa kapan, pada waktu itu Firman Tuhan yang dibaca adalah Amsal 1. Saya sangat terkesan sekali dengan ayat ke 3-5 yang mengatakan : Tujuan Amsal ini.Untuk menerima didikan dan menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran, untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda.
Firman ini untuk saya! Dan sejak itu saya mulai membaca Alkitab setiap malam. Dan pada lain kesempatan, Ibu rohani saya mengatakan lagi bahwa, saya akan dipakai Tuhan sebagai alatNya. Sementara pada saat-saat itu juga, Tuhan ijinkan masalah demi masalah terjadi. Yang satu belum beres timbul satunya lagi, satunya lagi. Sangat banyak dan membuat saya sangat-sangat pusing. Dan inilah masalah-demi masalah yang saya hadapi :
Kurang lebih 10 tahun ini, saya berpacaran dengan seorang pria keturunan Menado - Belanda yang beragama Muslim dan berpredikat Haji. Hubungan yang semula dari iseng ini, semakin berlanjut dan semakin dalam. Kami saling mencintai. Dia sangat mempengaruhi kehidupan saya. Dialah segala suka dan duka saya. Hubungan kami berjalan sedemikian lamanya tanpa ada kejelasan untuk masa depan kami, dari masing-masing pihak. Saya berpikir selama saya belum menemukan jodoh, kenapa tidak saya tetap melanjutkan hubungan ini. Tapi ternyata saya tidak kunjung mendapatkan seseorang yang baru. Karena mata dan hati saya telah tertutup untuk yang lain. Yang saya tahu, satu-satunya orang yang belum tergantikan posisinya di hati saya adalah Pak Haji ini.
Malam tahun baru Imlek, salah seorang teman saya, yang saya tahu secara tidak disengajanya, kata-katanya sangat menyakiti hati saya. Persoalan yang sangat sepele ini akhirnya menjadi besar sampai semua teman-teman saya merasakan akibatnya. Dan sangat tidak nyaman dengan masalah ini. Kami yang sangat akrab berubah 180˚ menjadi saling membenci satu sama lain. Saya tahu, keegoisan sayalah yang membuat kami tidak segera menyelesaikan masalah ini.
Saya percaya Tuhan, tapi saya masih suka pergi ke paranormal. Kalau ada orang yang sangat pasrahnya sama Tuhan, saya heran. Bagaimana mungkin orang bisa sepasrah itu sama Tuhan? Paranormal demi paranormal saya datangi. Walaupun sebenarnya kedatangan saya kesana hanya untuk iseng. Kalau ramalan jelek saya tidak percaya, kalau ramalan bagus, senang tapi seiring dengan berjalannya waktu saya sudah lupa. Yang membuat saya mulai berpikir, setiap datang ke paranormal satu, saya disuruh bikin acara selamatan, ke satunya lagi selamatan lagi, ke yang lain begitu pula. Berarti di setiap paranormal yang saya datangi, saya harus melakukan selamatan terus. Terus apa gunanya selamatan demi selamatan yang saya lakukan sebelumnya? Sahabat terdekat saya, sangat sedih melihat hal ini. Tapi dia tidak berani menegur saya. Yang dia lakukan hanyalah berdoa dan minta pada Tuhan supaya saya diselamatkan. Dan dia boleh bersukacita karena doanya dikabulkan Tuhan.
Yang terparah adalah akibat dari kehidupan saya yang lampau, yang suka berfoya-foya dan akrab dengan kehidupan malam, akibatnya saya tanggung. Kartu kredit saya jebol semua. Jumlahnya hampir mencapai Rp. 60 juta. Sebenarnya penghasilan saya sebulan sangat jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan saya sehari-hari. Tapi jumlah itu tidak berarti apa-apa karena tagihan kartu-kartu kredit itu banyak sekali. Saya tidak mampu membayarnya. Saya dikejar-kejar oleh Debt Collector. Saya takut sekali. Saya tahu kalau saya bilang saja sama orang tua saya, pasti di bayarkan. Tapi saya berpikir bahwa itu harus saya tanggung sendiri. Karena itu kesalahan saya. Tapi bagaimana caranya?
Kalau anda bertanya kenapa saya melakukan semua itu? Melakukan apa yang saya mau, tanpa pernah memikirkan akibatnya? Jawabannya Cuma satu. Karena saya ingin menyakiti seseorang. Seseorang yang sangat saya benci, sekaligus saya cintai. Kalau dia bisa seenak sendiri, tanpa memikirkan pengaruhnya bagi orang lain, saya juga bisa. Saya juga bisa menyakiti hatinya dengan hidup saya yang tidak teratur. Saya sangat-sangat membencinya, Kebencian ini begitu merasuk dalam setiap sel-sel otak saya. Dan saya tidak pernah mengatakan hal ini kepada siapapun.
Masalah-masalah itu semakin menghimpit saya. Semakin saya berusaha lari, semakin masalah itu menghimpit saya. Saya tidak mampu. Sungguh saya benar-benar tidak kuat menghadapi kehidupan saya yang berat. Dan keinginan bunuh diri itu semakin kuat. Tapi seiring dengan itu, saya mulai belajar berdoa. Saya juga mau belajar untuk menaruh dan mempercayakan semua permasalahan ini kepada Tuhan. Karena saya tidak mampu.
Saya datang kepada Tuhan, saya menangis, saya berteriak, saya minta ampun kepada Tuhan, dan saya bilang Tuhan, saya sudah tidak kuat, saya tidak mampu. Tuhan, tolong saya! Tolong saya Tuhan!
Sejak rajin membaca Alkitab dan banyak berdoa, saya merasa lebih dekat dengan Tuhan. Ayah dan Ibu Rohani saya dengan penuh kasih banyak membimbing saya. Terima kasih Tuhan, Engkau mempertemukan saya dengan keluarga ini. Tanpa disengaja juga, saya membaca sebuah buku Heaven Is So Real karangan Choo Thomas. Buku ini sangat memberkati saya, dan ini juga sebuah cara Tuhan yang lain untuk menarik saya kembali kedalam pelukanNya. Dalam buku itu, Tuhan mengatakan.. Kamu mau memilih yang mana, Kerajaanku, Kerajaan Surgawi atau Kerajaan duniawi? Kamu tidak bisa memilih dua-duanya. Kata-kata dalam buku itu membekas dihati saya. Dan mulai saya pikirkan. Akhirnya saya mulai mengambil sebuah keputusan. Kalau Tuhan mau memakai saya sebagai alatNya, saya tidak mau menghalang-halangi kehendak Tuhan. Saya tidak mau kelakuan-kelakuan saya yang lalu menjadi penghalang rencana Tuhan dalam kehidupan saya.
Satu demi satu masalah yang timbul akibat kekeras'an kepala saya, saya selesaikan.. Mula-mula saya memutuskan hubungan dengan Cinta duniawi saya, Cinta saya dengan Pak Haji. Dan semua yang berhubungan dengan Dia saya buang. Saya melepaskan cinta duniawi saya tapi saya tahu, saya mendapatkan cinta Tuhan saya. Setelah itu saya menelpon teman saya. Kami hampir 5 bulan tidak bertegur sapa. Saya minta maaf padanya. Dan dia memaafkan saya. Begitu gampang dan mudah. Dan begitu indah. Saya tahu semua teman-teman saya juga bernapas lega. Setelah meminta maaf pada teman saya, saya bilang pada Ibu rohani saya, bahwa saya telah kalah. Ya, saya memang telah kalah dalam mempertahankan ego saya, tapi saya tahu dalam hari-hari selanjutnya, Tuhan yang mengambil alih kehidupan saya. Saya juga telah memaafkan seseorang yang sangat saya benci itu. Saya melupakan semuanya. Yang ada, saya sungguh mencintainya tanpa ada rasa dendam dan kebencian dalam hati saya. Hari-hari saya mulai agak ringan dijalani, setelah semua kepahitan-kepahitan itu terlepaskan.
Saya semakin rajin berdoa, kali ini saya hanya menggantungkan diri pada Tuhan Yesus saya. Saya bilang sama Tuhan, saya mau menggantungkan hidup saya hanya pada Tuhan. Saya tidak punya apa-apa untuk Tuhan saya. Saya hanya punya hati dan saya mau mempersembahkan hati saya pada Tuhan saya. Saya sudah membulatkan tekad untuk tidak kembali pada dunia kegelapan. Dan saya juga belajar untuk tidak kuatir. Saya pasrahkan seluruh kehidupan saya pada Yesus. Biar Tuhan Yesus yang mengatur. Karena saya sudah tidak sanggup mengaturnya.
Dan memang cara Tuhan bukan cara saya. Tuhan menolong saya dengan jalan yang sama sekali tidak masuk diakal. Saya melakukan kesalahan yang fatal di kantor. Saya memakai uang kantor untuk membayar tagihan kartu kredit saya. Dan ketahuan boss saya. Saya tahu, saya bisa dipecat karena ini. Tapi, Tuhan Yesus saya memang dahsyat dan ajaib, boss saya tidak memecat saya, malah memberi pinjaman pada saya untuk melunasi hutang-hutang saya. Pinjaman tanpa bunga, bisa dibayar semampu saya dan tanpa batas waktu. Bisa anda bayangkan bagaimana perasaan saya?
Sungguh luar biasa. Keluar dari kantor boss saya, saya langsung berdoa, Tuhan terima kasih. Saya sekarang betul-betul merasakan bahwa Engkau Allah yang dahsyat. Allah yang mampu menolong. Allah yang mampu melepaskan saya pada keterikatan-keterikatan yang membelenggu kehidupan saya.
Kemurahan demi kemurahan, kelepasan demi kelepasan saya dapat dari Tuhan Yesus saya. Saya tahu bahwa Dia memang mati untuk saya, dan Kuasa kebangkitanNya telah membenarkan (Roma 4:25) saya. Begitu banyak, begitu dahsyat dan besar apa yang saya terima dari Tuhan. Saya tidak peduli, bagaimana tanggapan orang atau penilaian orang tentang saya setelah membaca kesaksian ini. Itu tidak penting buat saya. Yang saya tahu, bahwa Tuhan sangat mengasihi saya dan saya berharga di mata Tuhan.
Pada kesempatan ini juga saya mau mengatakan, saya tidak tahu pergumulan-pergumulan apa yang anda hadapi, masalah-masalah apa yang sedang melanda anda. Tapi percayalah, bahwa Allah kita mampu. Mampu mengatasi semua masalah kita. Biarlah Dia menolong kita dengan caraNya sendiri. Terkadang lucu, kita ingin di tolong, tapi kita tidak suka cara Tuhan untuk menolong kita. Dan biarlah kita meyakini dalam hati kita bahwa Yesus itu sudah cukup bagi kita, yang lain cuman bonus.
Tuhan memberkati saudara. Amien.
Filipi 3 : 7 - 9, 12 - 14, Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi, karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan karena kebenaranku sendiri..., melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan. Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah dibelakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.
|