5 januari 2011, fariz rm
berharijadi yang ke-52.
bersama wiendy widasari,
diani sitompul, si kecil
sophia, dan sahat, saya
datang berucap selamat.
oneng menyambut dengan wajah
riang, fariz menyusul 10
menit kemudian. kue harijadi
‘Fariz 52: mengalir lebih
deras’ yang kami pesan dari
rumah kue Hansel & Gretel
tersaji di meja. ditemani
sophia, putri diani, fariz
meniup lilin, memotong kue,
menyuapi sang istri dan
memberi kecupan tipis di
bibir. saat mencicipi kue
double chocolate, fariz
terbelalak. luar biasa enak,
serunya.
fariz kemudian makan mie
panjang umur yang dibawa
diani. sahat menghajar 1
dari 7 bungkus nasi padang
rumah makan Sederhana yang
dibawanya. sebuah perayaan
hari jadi yang bersahaja
namun hangat. seusai makan,
kami berkongkow seru,
termasuk membincang komentar
beberapa teologiman di
facebook soal ibadah natal
di gki maulana yusuf, 25
desember 2010. berikut,
petikannya:
saya mengenal yesus sejak
lahir, berdoa padanya, dan
rajin mengikuti komuni. itu
kebiasaan indah yang
menghias masa kecil. ketika
mami kemudian menjadi mualaf,
saya pun ikut dengannya.
saya seorang muslimin yang
tidak terlalu taat, jarang
sholat, namun berusaha
mati-matian menghargai
kemanusiaan.
saya hidup di negara yang
menganut ‘bhineka tunggal
ika’ sebagai semboyan yang
menghidupi masyarakatnya.
ketika kemudian menjadi
musikawan, nilai-nilai itu
muncul di setiap karya musik
yang saya persembahkan. saya
menolak untuk
dikotak-kotakkan ke dalam
warna musik tertentu, parpol
tertentu, bahkan agama
tertentu. saya milik semua
golongan. itu cara yang saya
pilih untuk bersetia kepada
republik tercinta ini.
ketika menerima undangan
dari gki maulana yusuf untuk
menyanyi di dalam ibadah
natal tanggal 25 desember
2010, oneng sempat sedikit
kuatir. saya menenangkannya
dengan berkata: jika ini
undangan dari tuhan, semua
akan dimudahkan. saya
bertanya kepada sahat, lagu
apa yang harus saya
nyanyikan. sobat saya yang
‘setengah dewa’ itu menjawab
cepat: Mari Pulihkan Dunia,
dan Aku Mau Bilang Padamu.
yang bikin saya kaget,
pendeta berty minta agar
Mari Pulihkan Dunia
dinyanyikan bersama jemaat
di dalam ibadah. saya
bertanya kepada diri sendiri:
siapakah saya yang muslimin
ini hingga mendapat
kehormatan memandu umat
kristen menyanyikan lagu
pujian kepada tuhannya?
saya lalu terkenang kembali
ke masa kecil ketika rajin
pergi ke gereja bersama mami.
ada rasa haru yang menyeruak.
gambar di layar kenangan itu
berpindah cepat ke rentang
waktu ketika saya berada di
dalam penjara akibat sebuah
kebodohan yang luar biasa.
saat itu, ravenska dan
ravenski bercerita tentang
suster-suster di sekolah
tarakanita yang sering
bertanya tentang keadaan
saya di penjara cipinang.
ayah, kata venska, beberapa
suster setiap pagi
menyalakan lilin dan
menaikkan novena untuk
kebebasan ayah. doa-doa
mereka mewujud. saya
dibebaskan dari segala
tuntutan. malam pertama
kembali berada di rumah,
saya merenung dan bertanya
kepada tuhan, kapan saya
bisa membalas kebaikan
orang-orang kristen itu?
semua kenangan itu
memantapkan hati saya untuk
memenuhi undangan gki
maulana yusuf. sedikit pun
tak ada lagi keraguan di
hati. sehari sebelum
berangkat ke bandung, saya
berkunjung ke rumah mami.
saya terkejut ketika
mendapati dia sedang membaca
buku Dari Sebuah Guci.
berhari-hari mami tak bisa
lepas dari buku ini, indah
sekali, ucapnya. mami
mengaku sudah baca buku
tersebut 2 kali, dari awal
hingga akhir. ini yang
ketiga kali, katanya. kepada
mami saya lalu bercerita
tentang rencana kepergian ke
bandung esok dan bernyanyi
di dalam ibadah natal.
pergilah, ucap mami sambil
mengecup pipi saya, tidak
semua orang seberuntung kamu.
saya memutuskan untuk
menyanyikan Aku Mau Bilang
Padamu tidak seperti versi
CD Dari Sebuah Guci.
syairnya sederhana, tapi
sangat menggetarkan. saya
ingin menyampaikannya dengan
cara yang juga sederhana:
bernyanyi sambil memainkan
piano tunggal. semua hentak
perkusi saya hilangkan.
keindahan syairnya harus
sampai ke umat yang
mendengar.
tanggal 25 desember itu saya
bangun pagi dan menyiapkan
diri dengan utuh: tidak cuma
pita suara tapi juga hati,
karena hanya dengan sikap
jujur sebuah pesan bisa
mendarat dengan baik. keluar
dari kamar hotel, saya dan
oneng bersua dengan sahat
dan muna dan langsung
menyampaikan selamat natal.
kami berdua berangkat ke
gereja, jauh mendahului muna
dan sahat yang bahkan pada
saat itu belum mandi. ya,
saya sangat bersemangat
menyongsong pengalaman
spiritual yang sebentar lagi
saya masuki.
di dalam gereja, saya
memeriksa keyboard dan
sequencer, memastikan semua
sudah terhubung dengan baik.
semua berjalan lancar. saat
itulah sebuah suara
menyelinap keluar sanubari:
tuhanlah yang mengundang
saya datang ke rumahnya pagi
ini. saya ingat betul, dada
saya bergetar saat itu.
ibadah dimulai. saya duduk
bersama oneng dan muna. aneh,
saya sama sekali tidak
merasa asing dengan suasana
yang tercipta. saya dan
oneng duduk dan berdiri
sesuai dengan ajakan yang
tertulis dalam tata ibadah.
ketika mendengar umat
bernyanyi, saya tergetar
oleh keindahan musikal yang
tersaji.
dan, tibalah giliran saya
maju ke depan. bohong, jika
saya katakan dada saya tidak
berdebar. pertama, ini kali
pertama saya bernyanyi di
pagi hari, beberapa menit
sebelum jam 8. kedua, ini
kali pertama juga saya
bernyanyi di tengah-tengah
orang kristen di dalam
ibadahnya. sebab, jangankan
di dalam gereja, di dalam
masjid pun saya belum pernah
bernyanyi.
intro mengalun sepanjang 4
bar dan saya lantas terkejut
karena keheningan
betul-betul menyekap. demi
allah, saya kepingin
menangis ditemani suasana
sekhusyuk itu. tidak satu
pun suara lain terdengar,
tidak seperti di
konser-konser saya yang riuh
dan penuh celoteh. saya
betul-betul di bawa ke
hadirat allah untuk
mengumandangkan pujian
kepadanya. larik demi larik
saya ucapkan. saya tahu,
syair lagu Aku Mau Bilang
Padamu ditulis muna
panggabean berdasarkan
nyanyian pujian maria di
injil Lukas. sambil
bernyanyi saya mengenang
devosi dan salam maria yang
dulu kerap saya ucapkan di
masa kecil. saya terkenang
kepada mami, kepada opa dan
oma. saya merasa
dipersatukan kembali dengan
mereka setelah selama ini
dicekoki paham-paham yang
mengatakan ada tembok
pemisah yang kokoh antara
umat islam dan umat Kristen.
itu adalah 4 menit terindah
dalam hidup saya. 4 menit
yang mengatasi semua
kepahitan. dulu, ketika
menguburkan anak pertama
saya, saya berkata, ya allah,
aku hadapkan wajah anakku
ini kepadamu; tapi beri aku
keajaiban agar aku kembali
percaya kepadamu. tak cuma
satu, tuhan kemudian memberi
saya sepasang anak kembar.
dan pagi itu, di dalam
gedung gereja, tuhan yang
dulu saya tantang, tuhan
yang dulu saya sangkal,
berhadapan dengan saya dan
menyinari wajah saya dengan
kemuliaanya. kepada dunia
cinta mendamba dan
mengosongkan dirinya.
saya sangat menikmati
khotbah pendeta berty. buat
saya, dia adalah imam bagi
kemanusiaan yang utuh. dia
mengajarkan saya untuk tidak
merasa terpisah dari sesama
umat. saya berbahagia sekali
dan membayangkan
menyampaikan kabar itu
kepada mami di rumahnya.
saya membayangkannya berkata
begini: mami tidak perlu
gelisah. di surga, kita akan
berjumpa dengan opa dan oma
karena ternyata mereka juga
ada di sana.
damai kian merasuki hati
ketika mendengar tuturan
yanti kerlip, perempuan
berjilbab yang teguh menyapa
umat kristen dengan ucapan:
saudaraku yang seiman, pagi
ini kita merayakan hari
kelahiran yesus kristus.
it’s ring my bell, bukankah
yesus juga nabi yang saya
puja?
selanjutnya nafas saya
menderu menikmati rancaknya
para penabuh ar-rahman
memukul kendang dan rebab.
ulil abshar abdalla membantu
saya dan segenap umat islam
untuk meyakinkan umat
kristen bahwa kami bukan
kaum barbarik yang
semena-mena dan mengira
punya kuasa untuk mengatur
republik ini sendirian. saya
bersyukur mendapati islam
Indonesia memiliki seorang
intelektual secerdas dia.
ah, pagi itu saya ternyata
punya sangat banyak alasan
untuk bersyukur.
lalu, puncak acara saya
masuki dengan mendendangkan
lagu Mari Pulihkan Dunia.
itu memang bukan kali
pertama saya bernyanyi
dengan orang banyak, tapi
pagi itu saya bernyanyi
bersama mereka kepada tuhan.
semua orang bernyanyi sambil
bertepuk-tangan: tua-muda,
besar-kecil di gedung gereja
yang penuh sesak. saya
sangat bersukacita.
dan ketika kebaktian usai,
saya berdiri di pintu keluar
bersama pendeta berty, ulil,
muna, dan oneng, rahmat
allah yang maha besar terasa
diguyurkan ke wajah saya.
ada lebih dari 1000 orang
yang menyalami saya dan
berkata satu-per-satu:
‘terima kasih atas
lagu-lagunya, mas, saya
merasa diberkati’. saat itu
saya langsung tahu, jika
kelak mui atau fpi mengecam
keterlibatan saya di dalam
ibadah natal ini, saya sudah
punya jawaban: ‘menurut
kalian, dengan ucapan
seperti itu yang saya terima
dari lebih 1000 umat, saya
akan diganjar pahala atau
kutukan?’
saat itu pula saya teringat
akan wejangan papi, beberapa
jam sebelum dia mengembuskan
napas terakhir dahulu. is,
kata, papi, ingatlah bahwa
kamu seorang khalifah. waktu
itu saya jawab, saya tahu,
pap. tidak, kamu tidak tahu,
tolaknya kemudian. kamu
tidak tahu bahwa kamu adalah
seorang khalifah bagi para
penggemarmu. saya tersentak,
itu beban yang sangat berat.
‘terima kasih atas
lagu-lagunya tadi, mas fariz,
saya merasa diberkati.’
masya allah, wejangan papi
menemukan wujudnya pagi itu.
(pada bagian ini mata fariz
berkaca-kaca).
jadi, muna, kalau para ahli
teologi mengecam ibadah
natal kemarin, itu berarti
mereka sama sekali tidak
peka kepada kebutuhan
umatnya. mereka membutakan
mata bahwa di antara para
jemaat ada yang memiliki
dilema seperti mami saya.
pasti ada dari antara mereka
yang berayah-ibu islam, atau
berkakek-nenek islam dan
selama ini terus dihantui
ketakutan tidak bertemu
dengan mereka lagi di sorga
nanti. ibadah natal tanggal
25 desember kemarin telah
menyatukan kita semua. bahwa
nanti di surga, suasananya
sama seperti di gki maulana
yusuf kemarin: orang
Kristen, islam, hindu,
Buddha, konghucu, sinto,
berdiam di satu rumah,
memuji dan menyembah allah
yang satu. lebih daripada
segalanya, ibadah natal gki
maulana yusuf kemarin telah
menghadirkan prototipe surga
kepada kita.
yang terakhir, tolong
tanyakan kepada mereka yang
mengecam itu, apakah ada
dari antara mereka yang
pernah diundang langsung
oleh tuhan? saya, fariz rm
sudah pernah dan saya
memenuhi undangannya pada
tanggal 25 desember 2010 di
gedung gereja gki maulana
yusuf. di sana saya
memuliakan tuhan yang turun
ke bumi dalam rupa cinta.
sepulang dari bandung saya
jadi rajin bersholat. setiap
jam 4 pagi saya bangun dan
berjalan kaki ke masjid. di
sana saya berdoa bagi
segenap manusia. saya berdoa
buat papi, buat mami, buat
venska dan venski yang
sedang menuntut ilmu di
belanda, buat opa dan oma,
buat kamu, buat sahat, buat
berty, dan buat buku Dari
Sebuah Guci.
sekarang, saya tidak lagi
ragu. dan jika tuhan sudah
menetapkan waktunya, saya
siap.
(sampai dengan saat ini
fariz rm masih menderita
kanker hati; sebagian sudah
diangkat, namun sebagian
masih berdiam di pankreasnya.
tidak berkembang, katanya
sambil tertawa lepas)
"Love, to be real, must
cost, it must hurt, it must
empty us of self" - Mother
Teresa