Tahun 2006 saya adalah
seorang teknisi lapangan,
ketika itu saya seorang diri
sedang memperbaiki peralatan
yang bermasalah di fasilitas
pengumpul gas milik
Pertamina di daerah Bengkulu,
karena kelalaian saya alat
tersebut mengalami gangguan
yang mengakibatkan gangguan
yang serius pada fasilitas
gas tersebut, menimbulkan
keributan, bahaya, dan
suplai gas harus dibuang
untuk keamanan, gas masuk
dan keluar harus ditutup.
Kemudian saya berusaha untuk
kembali menormalkan
peralatan yang saya hadapi
tetapi fasilitas pengumpul
gas tersebut sudah terlanjur
shutdown. Pejabat yang
berwenang disitu mengetahui
bahwa sayalah yang berbuat
salah. Pada malam harinya
saya merasa demam oleh
karena ketakutan, setelah
makan saya minum air hangat
dan berdoa kepada Tuhan
meminta pertolongan, saya
berangkat tidur dengan demam
yang tinggi, keesokan
harinya puji Tuhan badan
saya sudah sehat dan
fasilitas gas sudah kembali
normal. Beberapa hari
kemudian saya dipanggil
rapat di Pertamina untuk
mempertanggungjawabkan
kesalahan saya tersebut,
saya berserah penuh kepada
Tuhan apa yang akan terjadi
pada saya, setelah rapat
berlangsung dan saya
menceritakan urutan
kejadiannya lalu saya
menjadi sungguh heran karena
masing-masing orang disitu
menjadi saling berdebat
sendiri hingga waktu
istirahat siang tiba
akhirnya rapat ditutup
begitu saja. Saya sangat
bersyukur kepada Tuhan, Dia
menolong dengan cara yang
tidak terpikirkan. Satu
mukjizat lagi saya dengar
kemudian bahwa suplai gas ke
pabrik pupuk di Palembang
tidak mengalami penurunan
tekanan gas saat kejadian
itu. Puji Tuhan Yesus
Kristus karena dalam satu
peritiwa saya beroleh banyak
mukjizat yang akan saya
kenang dan saksikan seumur
hidup saya. Tuhan tetap
menolong saya meski saya
sudah berbuat kesalahan dan
kelalaian. Diberkatilah
orang yang mengandalkan
TUHAN, yang menaruh
harapannya pada TUHAN
(Yer17:7).