AWAL KEHIDUPAN
Seorang bocah kecil mulai menghirup sejuknya udara subuh pada tanggal 20 Oktober 1984, dia mulai meneriakkan tangisan pertama tepat pada pukul 01.00 dini hari. Begitu banyak persiapan yang telah dilakukan untuk menyambut sang buah hati, maklum saja karena ini adalah buah hati yang pertama dan mungkin saja yang terakhir untuk mereka. Kebahagiaan yang terjadi pada hari itu memang indah, semua telah dipersiapkan jauh hari sebelumnya, tapi ternyata semuanya itu belum lengkap, sosok yang sangat dibutuhkan untuk mendampingi sang bunda tidak hadir untuk menyambut sang kecil. Mungkin ada sesuatu yang lebih penting yang harus dikerjakan daripada harus membuang waktu percuma untuk menanti dan terus menanti.
Kekosongan itu ternyata tidaklah lama, seorang yang selama ini mejadi teman karib dari sang ayah, bersedia untuk menemani dan bahkan membuang waktu selama beberapa hari untuk menanti persalinan.
Pada hari yang sangat spesial itu tidak ada yang peduli, mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing. Bocah kecil mulai menghirup indahnya udara subuh yang sejuk, dia bahkan tidak mempedulikan siapa saja yang terjaga dari tidur hanya untuk kedatangannya ke dunia ini. Tangis dan tawa yang menggelegar mulai memenuhi isi ruangan, kehadirannya seakan memberikan suasana baru di tengah luka yang telah tergores.
Kebahagiaan yang dirasakan tidak berlangsung lama, dan itu pun dilakukan hanya terpaksa untuk menghindari ocehan orang lain. Batin yang tersiksa akhirnya meluap setelah setahun berusaha untuk memendam semua gundah dalam hati. Cerita indah sang kecil harus tertunda dan mungkin takkan pernah terasa lagi, karena waktu takkan pernah untuk kembali lagi. Masa kecil yang hampa, yang dirasakan tidak selayaknya dan mau tidak mau harus dilalui. Bocah kecil yang polos tidak pernah mengetahui masalah yang terjadi harus menjadi korban. Kehidupan yang tidak menentu, dan beberapa kali dipindahtangankan seolah-olah membuang tanggung jawab yang sudah seharusnya menjadi kewajiban. Bocah tersebut hanya tersenyum, mengikuti alur cerita, melakoni tokoh yang diperankannya dan menikmati perlindungan dari ribuan orang yang telah mengasuhnya.
Mereka sibuk dengan aktivitasnya, sibuk dengan keegoisannya, dan tanpa disadari mereka menelantarkan sesuatu yang sangat berarti. Mereka tak pernah tau dan bahkan tak mau peduli akan keadaannya. Mereka mencuci tangan atas apa yang telah diperbuat. Mereka tidak mau tau akan gizi buruk dan busung lapar yang menimpa bocah kecil ini.
KASIH YANG TERINDAH
Dari lingkungan yang serba berkecukupan, bocah kecil ini tumbuh dalam sebuah didikan militer yang sejak kecil mulai diterapkan, sosok keluarga yang masih mau menampungnya dan masih mau mempedulikannya. Kehidupan yang keras dan sarat dengan pemasungan harus dilalui, lingkungan sekitar mengajarkan kedewasaannya untuk berpikir, sehingga apa yang harus menjadi resiko harus dihadapi seorang diri. Pematangan diri harus terjadi, meski usia belum memenuhi syarat.
Kadang terbesit dalam benaknya akan sesuatu yang mengucilkan diri. Niat mengurung diri tanpa harus tampil ke permukaan menjadi suatu keharusan mengingat latar belakang kehidupannya yang selalu menjadi landasan berpikir. Tapi anehnya, tak pernah dia menyesali akan semua kejadian yang menimpanya, dia melalui kehidupan seperti halnya tidak terjadi apa-apa. Senyuman dibalik tangis, dan tangis dibalik senyuman, itulah yang selalu menghibur penderitaannya.
Hari demi hari terus berlalu, dan bocah kecil ini masih harus terkungkung dalam derita dan masalah yang masih saja terus membelunggu. Adilkah hidup mengasuhnya seperti ini. Atau memang takdir yang mengharuskan dia untuk melalui semua dengan penuh kepahitan? Tak ada yang peduli, tak ada yang mau berbagi kasih dan tak seorang pun yang membagi perhatiannya, meski itu hanya sepenggal saja.
Hanya sosok yang tua dan rentan yang masih terjalin benang sedarah yang mampu untuk melindunginya. Tapi sebenarnya itu bukan suatu keharusan bagi mereka, karena di usia seperti itu tidak sewajarnya bagi mereka untuk menanggung beban yang cukup berat.
Tak terasa usia remaja mulai menghampiri, berjuta permasalahan mulai dihadapi, kreatifitas pengembangan diri mulai diuji, ada satu hal yang selalu mengganggu pikirannya, yaitu traumatis akan masa lalu yang mungkin akan terulang lagi. Mungkin inilah dampak yang harus dirasakannya, mungkin ini merupakan suatu gejala yang harus timbul sesuai masalah psikologi yang dihadapinya. Akankah ini berakibat fatal bagi dirinya? Ataukah akan berpengaruh dalam kehidupannya dalam berkeluarga kelak saat ia dewasa nanti?
Banyak kejadian yang secara tidak langsung telah membentuk pola pikir, sifat, kebiasaan dan bahkan tingkah lakunya. Suasana hati dan perasaan menjadi tidak stabil, kadang emosi semakin meledak-ledak, hingga orang sekitar bisa menjadi tempat pelampisan kemarahan yang tidak beralasan.
Banyak usaha dan cara dilakukan untuk menyeimbangkan suasana hati yang galau berbagai sumber buku tentang pengembangan diri mulai dilumat satu persatu guna menumbuhkan kepribadian yang sewajarnya. Namun, semua itu tidaklah mudah, berkali-kali kehidupan mengarahkan diri untuk terperosok jatuh dalam beberapa lubang yang cukup dalam. Walau penuh luka dan goresan yang harus membekas, dia harus berusaha bangkit menapaki dalamnya lubang itu untuk mendapatkan permukaan yang terang, dimana sinar mentari telah menantinya. Ternyata banyak yang harus dibayar untuk suatu tujuan, banyak yang harus dikorbankan untuk suatu hidup yang sukses.
Berbagai cara pembangkangan telah dilakukan untuk melawan eksploitasi hidup yang tidak menentu. Menyendiri ketempat yang sepi, menyusuri pantai, mendaki gunung, bahkan melakukan perjalanan ketempat yang jauh yang semuanya itu membutuhkan waktu berminggu-minggu, tapi setelah kembali ke alam nyata masalah tetap ada, dan mau tidak mau harus diterima setiap masalah demi masalah. Kadang dia hanya bisa pasrah mengatakan bait demi bait yang selalu menjadi jeritan hati 'Tuhan berikanlah ketabahan untuk menerima hal-hal yang tak bisa diubah, keberanian untuk bisa mengubah hal-hal yang bisa diubah, dan kebijaksanaan untuk membedakan keduanya' .
Walau begitu, di tengah kegalauan yang selalu menimpanya,. komitmen tentang studi tetap dipegang teguh, karena hanya itulah yang menjadi acuannya agar tidak mengecewakan orang yang sangat dihormatinya.
SPIRAL KEHIDUPAN
Berbagai kegiatan dan aktivitas digelutinya, hanya untuk menyibukkan diri, agar tidak terperosok lebih dalam akan kepahitan hidup.
Kejadian yang sangat memilukan harus dirasakan kembali ketika salah satu yang menjadi pengasuhnya harus meninggalkannya untuk selamanya. Dia langsung terperosok dalam kehidupan yang sesat, dan bahkan inilah awalnya jalan hitam kelam yang harus dijalani. Berbagai bahan kimia harus dikonsumsikan setiap harinya, tanpa peduli akibat yang harus menimpanya, pergaulan bebas mulai menjadi tempat pelarian. Segala hal yang baru mulai dicoba, untuk sekedar mencari jati diri yang sesungguhnya. Dia terjebak dalam aliran "kiri" dimana dia mulai belajar tentang pemberontakan yang tidak lazim, dan bahkan tidak beraturan. Setengah tahun perjalanan hidup terus saja seperti itu, dan selama itu pula kehampaan hidup mulai dirasakan.
Tak terasa akhir dari pendidikan atas telah berhasil diselesaikan dengan baik tanpa ada hambatan, banyak cita-cita yang ingin dicapai, banyak rencana yang masih harus digapai dan keinginan untuk melanjutkan studi ke bangku kuliah. Tapi sekali lagi ia harus terperosok kembali dalam lubang yang kali ini sangat dalam dan bahkan sempat mengikis luka yang begitu parah. Sangat disesali karena kehancuran itu diciptakannya sendiri, dan mau tidak mau seperti biasanya segala resiko harus ditanggung seorang diri. Segala yang menjadi impian harus tertunda untuk sesaat, dan pribadi harus menjadi budak untuk mendapat seggenggam emas. Pembunuhan karakter harus terjadi, ia harus menjadi orang lain untuk dirinya sendiri, semuanya dilakukan dengan cara didikte karena begitulah hidup dalam tumpangan keluarga yang asing, yang mungkin hanya akan memanfaatkan keadaan sehingga salah seorang anggota keluarganya tidak mendapatkan kekecewaan yang berat. Pribadi menjadi pembangkit semangat bagi diri orang lain, bagi kesuksesan orang lain dan tanpa disadari bagi dirinya sendiri telah ketinggalan satu langkah untuk maju. Hampir saja dia ditindas seumur hidupnya, kalau saja dia tidak langsung membelokkan arah jalan hidup. Dan disini, ia sangat merasakan turut campur tangan Tuhan bekerja dalam kehidupannya, ternyata di tengah kegalauannya ini masih ada satu cahaya yang mampu memberikan penerangan terhadap pribadi yang lemah dan rentan.
Ia kembali lagi ke pangkuan sosok orang tua yang telah mengasuhnya selama ini, mereka menerimanya kembali dengan senang hati, tanpa dendam amarah dan perasaan kesal sekalipun. Segurat senyum bahagia muncul dari wajah wanita tua yang tidak asing bagi dirinya, belaian kelembutan dirasakan lagi, kerinduan yang dalam setelah sekian lama menjauh, perasaan bersalah muncul sehingga muncul suatu niat untuk menebus semuanya itu dengan cara apapun meskipun itu harus mengorbankan segalanya.
Studi yang terbengkalai sempat dilanjutkan kali ini berbaur dengan kehidupan kampus Univ. Nusantara, sesuai dengan program studi sebelumnya manaj. Informatika ia terus menikmati dengan susanan kehidupan kampus yang baru itu. Teman-teman muncul dari berbagai latar belakang yang berbeda, dan mereka tidak pernah memanfaatkan situasi. Mungkin di tempat inilah teman yang sejati baru dirasakan. Tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Satu semester hanya berhasil dilalui karena bentrok dengan masalah materi yang menjadi kendala utama. Kali ini untuk yang kedua kalinya cita-cita dan impian tertunda.
Sosok teman dekat muncul dan selalu menemani hari-hari yang sulit, kegemaran dan segala hal menjadi sepaham dan sejalan. Waktu selanjutnya hanya dihabiskan dengan melakukan perjalanan menikmati keindahan alam, karena sebelumnya ini telah menjadi kebiasaannya. Tanpa beban semua berjalan seperti biasanya. Tujuan hidup seakan tidak ada, yang ada hanyalah menikmati apa yang ada di hari ini.
Mungkin rencana Tuhan lain untuk dirinya, tanpa ada alasan yang jelas, terbuka jalan untuk melanjutkan cita-cita dan tujuan hidup yang sempat tertunda untuk kedua kalinya, tapi sayang jalan tersebut ternyata membawa kehidupannya kembali terperosok jatuh lebih jauh, dan kali ini jurang yang sangat dalam yang siap untuk melumatnya. Tapi, ini sudah menjadi sifat yang keras, yang terbentuk dengan sendirinya sehingga resiko apapun tidak pernah menjadi kendala.
Dengan kehidupan yang bertambah pekat, yang sebenarnya tidak sesuai dengan kehendak hati, ia terus menikmatinya. Yang ada dalam pikiran alam bawah sadar hanyalah tujuannya bisa tercapai sehingga tidak mengecewakan orang yang selama ini dihormati. Namun tanpa disadarinya, jalan potong yang ditelusuri berakibat sangatlah fatal.
Kali ini yang terjadi bukan lagi pembunuhan karakter, tapi pemasungan yang berlarut-larut. Hidup bagaikan kungkungan jajahan yang tak jelas. Tapi, anehnya kehidupan seperti itu masih sempat untuk dinikmatinya. Hampir dua tahun lamanya kehidupan seperti itu terpaksa harus dijalani, meski tangisan dan bahkan darah sekalipun harus menjadi saksinya. Nyawa selalu menjadi taruhan, harga diri selalu digadaikan. Selama waktu yang mengenaskan itu dilalui, kehidupan yang tergantung dengan zat adiktif terus berlanjut, mengingat kemudahan yang diperoleh untuk mengkonsumsikannya, bahkan saat itu dengan takaran saji yang lebih dari biasanya. Tanpa beban sekalipun semua hari-hari berhasil dilalui, tanpa sadar dan sampai melupakan waktu yang ada. Pengaruh zat tersebut seakan membuat pikiran melupakan akan suatu masalah yang sulit sekalipun. Aktivitas di kampus seperti biasanya sehingga kebiasaan itu seperti halnya melakukan sarapan di pagi hari.
Disamping keterpurukan itu, pribadi tidak pernah berpaling untuk mengerjakan kewajiban yang sudah menjadi tugas sebagai seorang pelajar, serta terus mengembangkan kreativitas yang ada, tak tahu sebenarnya kekuatan dari mana yang muncul sehingga pikiran sadar masih terus terkontrol disaat mengkonsumsikan zat adiktif yang bisa melumpuhkan otak tersebut.
PERJUANGAN
Waktu terus berjalan, dan seiring dengan itu berlalulah apa yang sudah berlalu, kedewasaan berpikir mulai timbul seiring dengan bertambahnya usia. Dalam benak muncul pemikiran untuk kembali pada arah yang sebenarnya. Niat tinggalah menjadi keinginan, dan memang sangatlah sulit untuk diwujudkan. Beberapa kali keinginan itu terbentur hanya karena komitmen pribadi yang belum seutuhnya kokoh, beberapa kali pribadi masih dapat dikuasai oleh pikiran duniawi yang nyatanya memang sangat menyesatkan.
Dengan langkah yang tertatih-tatih namun pasti, dia coba melangkah, menempuh pijakan kaki yang masih membekas yang sebelumnya pernah dilalui. Namun beberapa kali diri jatuh terperosok karena tumpuan kaki yang masih terlalu lemah. Resiko besar diambil, pijakan yang sebelumnya belum pernah dilalui seseorang harus dipilih, meski belum tahu pasti tebing terjal apa yang akan manghalau di depan. Setapak demi setapak meski beberapa kali tergelincir jatuh, tubuh harus merayap dengan sejuta keinginan akan masa depan yang lebih baik yang akan dapat digapai di puncak tebing.
Kehidupan yang paling suram telah berhasil ditinggalkan, kini hidup sesuai dengan apa yang seharusnya dijalani, meski begitu tetap pribadi tidak dapat pungkiri bahwasanya akan terbebas dari masalah sekalipun, masih banyak permasalahan yang datang terus menyerang. Tapi hanya satu prinsip yang tetap terus dipegang, bahwa kemarin masalah yang paling sulit sekalipun, telah berhasil ditempuh, mengapa diri harus terjebak dalam masalah yang sepele?
Saat-saat terakhir dalam studi kampus, saat bintang yang ingin diraih tinggal sejengkal lagi, ternyata masih banyak kendala yang harus dihadapi. Sekiranya dengan usaha yang penuh perjuangan ini akan menggerakkan hati mereka yang telah sekian lama menelantarkan kehidupannya. Tapi, ternyata sebaliknya, mereka bahkan tidak menoleh sedikitpun untuk memberikan bantuan baik itu hanya merupakan support. Sosok wanita yang telah rentan itu masih terus mendampinginya dan memberikan motivasi, meski sebenarnya dia tahu pasti semua itu sudah melebihi kemampuan dari wanita itu. Dia sangat berjasa selama ini, dia bahkan tidak pernah mempedulikan akan apa yang menjadi kesulitannya sekalipun hanya untuk mewujudkan cita-cita dari bocah cilik yang telah beranjak dewasa ini.
Disamping itu ada seorang teman dekat yang selalu mendampingi dan secara tidak langsung telah mempengaruhi kehidupannya. Tapi apakah dia dapat mengetahui apa sebenarnya mau daripada bocah ini?
Meski teman dekat dan bahkan yang paling baik sekalipun namun dia hanyalah orang lain, yang mungkin saja baru mengenal pribadi bocah ini, dan belum memahami pasti akan sifat dan perilaku yang sebenarnya.
Bocah tersebut hanya pasrah dengan apa yang semua yang telah menimpanya, dan dengan harapan yang pasti dia sangat menginginkan untuk tidak pernah mengecewakan orang yang sangat dihormatinya, dan mereka yang sangat menaruh harapan yang besar buatnya, siapapun mereka. Hanya itu dan tidak ada yang lain................
Semua perjuangan yang penuh dengan kesulitan, mulai menampakkan hasil. Begitu tertatihnya dia mulai menapaki terjal kehidupan bahkan harga diri menjadi taruhan. Dan sekarang dia mulai berhasil mencapai tingkatan setengah dari harapan-harapan yang mulai pudar.
Ada rasa bangga dan haru, ketika Gema Mars Politeknik Negeri Manado dikumandangkan, ketika dia bisa berdiri berdampingan dengan para wisudawan/wati lainnya, dan ketika janji wisudawan mulai dikumandangkan. Dia mulai mengenang masa yang sangat indah dimana semua kelamnya kehidupan dimulai. Air mata yang seharusnya tertumpah sempat dibendungnya, karena mengingat perjalanan yang akan ditempuh masih sangatlah panjang, dan semua ini hanyalah merupakan awal dari suatu kedewasaan berpikir seorang bocah kecil yang mulai menghargai suatu kehidupan.
Bocah kecil yang tidak pernah tahu alasan, mengapa mereka mencampakkannya kini adalah seorang Ahlimadya Akuntansi, dan bukan hanya itu saja dia adalah sorang kader Marhaenis, dimana doktrin yang megharuskannya untuk tetap berpegang teguh pada paham Nasionalis. Perjuangan kehidupan baru saja dimulai, kini tantangan yang lebih keras lagi harus dilewati, apakah semua ujian-ujian ini dapat dilalui? Akankah rantai kehidupan yang sudah sekian lama dan bahkan turun temurun melekat di dirinya berhasil dilepaskan. Semua jawaban hanya bisa ditentukan oleh dirinya sendiri, hanya dia yang bisa menghentikan atau meneruskan kebiasaan itu.
|